miandabi

Just another WordPress.com site

Suatu hari seor…

Suatu hari seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang dirundung masalah. Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan semua masalahnya.

Baca lebih lanjut

adat istiadat minangkabau

Adat Minangkabau pada dasarnya sama seperti adat pada suku-suku lain, tetapi dengan beberapa perbedaan atau kekhasan yang membedakannya. Kekhasan ini terutama disebabkan karena masyarakat Minang sudah menganut sistem garis keturunan menurut Ibu, matrilinial, sejak kedatangannya di wilayah Minangkabau sekarang ini. Bold text Kekhasan lain yang sangat penting ialah bahwa adat Minang merata dipakai oleh setiap orang di seluruh pelosok nagari dan tidak menjadi adat para bangsawan dan raja-raja saja. Setiap individu terikat dan terlibat dengan adat, hampir semua laki-laki dewasa menyandang gelar adat, dan semua hubungan kekerabatan diatur secara adat.

Pada tataran konseptional, adat Minang terbagi pada empat kategori:

  1. Adat nan sabana adat
  2. Adat nan teradat
  3. Adat nan diadatkan
  4. Adat istiadat

Adat mengatur interaksi dan hubungan antar sesama anggota masyarakat Minangkabau, baik dalam hubungan yang formal maupun yang tidak formal, sesuai dengan pepatah, bahwa sejak semula ada tiga adat nan tajoli:

Partamo sambah manyambah,
kaduo siriah jo pinang,
katigo baso jo basi.
Banamo adat sopan santun.

Tajoli dari kata ‘joli’, sejoli=sepasang, (joli=kereta tandu, teman sejoli berarti teman satu kereta tandu sehingga sangat akrab) satu set. Jadi ketiga bagian adat di atas adalah satu set yang berjalan seiring, diprektekkan dalam kehidupan sehari-hari orang Minang, baik orang biasa maupun para penghulu dan cerdik pandainya.

Secara legalistik atau kelembagaan, adat Minang dapat dirangkum dalam Limbago nan Sapuluah, yaitu:

  1. Cupak nan duo
  2. Kato nan ampek
  3. Undang nan ampek

Cupak nan Duo ialah Cupak Usali dan Cupak Buatan Kato nan Ampek ialah:

  1. Kato Pusako
  2. Kato Mupakat
  3. Kato Dahulu Batapati
  4. Kato Kudian Kato Bacari

Undang nan Ampek ialah:

  1. Undang-undang Luhak dan Rantau
  2. Undang-undang Nagari
  3. Undang-undang Dalam Nagari
  4. Undang-undang nan Duopuluah

EMPAT JENIS ADAT DI MINANGKABAU

Adat Minang mencakup suatu spektrum dari yang paling umum hingga yang paling khusus, dari yang paling permanen dan tetap hingga yang paling mercurial dan sering berubah-ubah, bahkan ad-hoc. Di sini adat Minang disebut Adat nan Ampek.

1). Adat nan Sabana Adat, adat yang paling stabil dan umum, dan sebenarnya berlaku bukan hanya di Minangkabau saja, melainkan di seluruh alam semesta ini. Disepakati bahwa adat yang sebenarnya adat adalah Hukum Alam atau Sunnatullah, dan Hukum Allah yang tertuang di dalam ajaran Islam. Dengan mengambil Alam takambang menjadi guru adat Minang dapat menjamin kompatibilitasnya untuk segala zaman dan dengan demikian menjaga kelangsungannya di hadapan budaya asing yang melanda. Masuknya agama Islam ke Minangkabau, juga telah melengkapi Adat Minang itu menjadi kesatuan yang mencakup unsur duniawi dan unsur transedental.
2)adat nan teradat
3) Adat nan Diadatkan. Adat Minang menjadi adat Minang adalah karena suatu identitas dengan kesatuan etnis dan wilayah : adat Minang adalah adat yang diadatkan oleh Orang Minang, di Minangkabau. Jadi adat Minang itu sama di seluruh Minangkabau, dan setiap orang Minang be dan leluasa membuat penyesuaian-penyesuaian, maka adat itu akan bertahan dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakatnya akan sense of order. Tidak ada unsur paksaan yang akan terasa jika adat itu monolitik dan seragam di seluruh wilayah.
4). Adat Istiadat. Ialah adat yang terjadi dengan sendirinya karena interaksi antar anggota masyarakat dan antar anggota masyarakat dengan dunia luar. Dinamakan juga adat sepanjang jalan yang datang dan pergi, dan ditolerir selama tidak melanggar adat yang tiga di atas. Pengakuan akan adanya adat-sitiadat ini menjadikan adat Minang lebih komplit dan memberi ruang bagi anggota masyarakat untuk bereksperimen dengan hal-hal baru dan memperkaya budayanya.

Empat macam adat diatas adalah adat Minang semuanya dan menjadi suatu kesatuan yang utuh. Keempatnya tidak dapat dipisahkan, dan tidak dapat dikatakan adat Minang kalau kurang salah satu: Bukanlah adat Minang jika hanya terfokus pada adat istiadat akan tetapi melawan Hukum Alam. Dan buknlah pula adat Minang jika hanya berbicara tentang pengangkatan Penghulu, tetapi tidak memberi ruang untuk berlakunya adat istiadat yang dipakai oleh orang kebanyakan.

== Implementasi Adat Minangkabau == Dikatakan dalam pepatah adat: Partamo sambah manyambah, kaduo siriah jo pinang, katigo baso jo basi. Banamo adat sopan santun.

Rangkaian kata-kata pusako ini menyatakan bahwa adat Minangkabau secara sederhana dapat disimpulkan perwujudannya menjadi tiga hal:

1). Pasambahan.

Adat Minang sarat dengan formalitas dan interaksi yang dikemas sedemikian rupa sehingga acara puncaknya tidak sah, tidak valid, jika belum disampaikan dengan bahasa formal yang disebut pasambahan. Acara-acara adat, mulai dari yang simple seperti mamanggia, yaitu menyampaikan undangan untuk menghadiri suatu acara, hingga yang sakral dan diagungkan sebagai acara kebesaran adat, seperti “Batagak Gala“, yaitu pengangkatan seseorang menjadi Pangulu, selalu dilaksanakan dengan sambah-manyambah.

Sambah-manyambah di sini tidak ada hubungannya dengan menyembah Tuhan, dan orang Minang tidak menyembah penghulu atau orang-orang terhormat dalam kaumnya. Melainkan yang dimaksud adalah pasambahan kato. Artinya pihak-pihak yang berbicara atau berdialog mempersembakan kata-katanya dengan penuh hormat, dan dijawab dengan cara yang penuh hormat pula. Untuk itu digunakan suatu varian Bahasa Minang tertentu, yang mempunyai format baku.

Format bahasa pasambahan ini penuh dengan kata-kata klasik, pepatah-petitih dan dapat pula dihiasi pula dengan pantun-pantun. Bahasa pasambahan ini dapat berbeda dalam variasi dan penggunaan kata-katanya. Namun secara umum dapat dikatakan ada suatu format yang standar bagi seluruh Minangkabau.

Dalam pelaksanaan pasambahan, dalam adat Minang digariskan penentuan peran masing-masing pihak dalam setiap pembicaraan, pihak-pihak yang berbicara ditentukan kedudukannya secara formal, misalnya sebagai tuan rumah yang disebut “si Pangka“, sebagai tamu yang disebut “si Alek“, sebagai pemohon (yang mengajukan maksud dan tujuan perayaan}, atau sebagai yang menerima permohonan (pihak kebesaran adat yang memiliki kewenangan dalam legalitas perayaan alek/perhelatan).

2). Sirih dan pinang

Sirih dan pinang adalah lambang fromalitas dalam interaksi komunikasi adat masyarakat Minangkabau. Setiap acara penting dimulai dengan menghadirkan sirih dan kelengkepannya seperti buah pinang, gambir, kapur dari kulit kerang. Biasanya ditaruh diatas carano yang diedarkan kepada hadirin. Siriah dan pinang dalam situasi tertentu diganti dengan menawarkan rokok.

Makna sirih adalah secara simbolik, sebagai pemberian kecil antara pihak-pihak yang akan mengadakan suatu pembicaran. Suatu pemberian dapat juga berupa barang berharga, meskipun nilai simbolik suatu pemberian tetap lebih utama daripada nilai intrinsiknya. Dalam pepatah adat disebutkan, siriah nan diateh, ameh nan dibawah. Dengan sirih suatu acara sudah menjadi acara adat meskipun tidak atau belum disertai dengan pasambahan kato.

Sirih dan pinang juga mempunyai makna pemberitahuan, adat yang lahiriah, baik pemberitahuan yang ditujukan pada orang tertentu atau pada khalayak ramai. Karena itu, helat perkawinan termasuk dalam bab ini.

3). Baso-basi

Satu lagi unsur adat Minang yang penting dan paling meluas penerapannya adalah baso-basi: bahkan anak-anak harus menjaga baso-basi. Tuntuan menjaga baso-basi mengharuskan setiap invidu agar berhubungan dengan orang lain, harus selalu menjaga dan memelihara kontak dengan orang disekitarnya secara terus-menerus (interaksi sosial. Sebagai orang Minang tidak boleh individualistis dalam kehidupannya.

Baso-basi diimplementasikan dengan cara yang baku. Walaupun tidak dapat dikatakan formal, baso-basi berfungsi menjaga forms, yaitu hubungan yang selain harmonis juga formal antara setiap anggota masyarakat nagari, dan menjamin bahwa setiap orang diterima dalam masyarakat itu, dan akan memenuhi tuntutan hidup bermasyarakat sesuai dengan adat yang berlaku di nagari itu.

Kelembagaan Adat Minang

Satu hal yang sangat penting adalah bahwa bagi orang Minang, adat itu adalah suatu Limbago, atau lembaga, dan mengandung unsur-unsur yang merupakan lembaga juga. Penghulu adalah lembaga, urang sumando adalah lembaga. Demikian juga perkawinan, suku, hukum, semuanya adalah lembaga. Dalam pepatah dikatakan:

Adat diisi, limbago dituang. 

Jadi adat adalah sesuatu yang diisi, dipenuhi dan dilaksanakan, sedangkan lembaga adalah suatu jabatan, suatu aturan dasar atau undang-undang yang dibentuk dan ditetapkan untuk jangka waktu yang lama. Lembaga tidak boleh sering diubah atau diganti, lembaga harus permanen — dikiaskan dengan logam cor atau besi tuang.

Cupak nan Duo

Cupak adalah alat takaran. Alat takar lain sering disebut, seperti gantang, taraju, bungka. Maksud alat-alat ini adalah simbol lembaga hukum yang menjadi acuan bagi masayarakat dalam menjalankan dan mengembangkan adatnya. Sebagaimana masyarakat yang sederhana mungkin dapat melaksanakan perdagangan dengan ukuran kira-kira, misalnya menjual beras sekarung, jagung seongook dan seterunsnya, maka masyarakat yang teratur mangharuskan adanya takaran yang pasti, seperti liter, kilogram dan sebagainya. Maka cupak dan gantang, bungka nan piawai, serta taraju nan tak paliang, adalah lambang kateraturan yang diciptakan dengan lembaga adat.

Cupak nan dua adalah

1. Cupak Usali, dan 2. Cupak Buatan. 

Kedua cupak ini menjamin change and continuity dalam adat Minang. Cupak Usali adalah adat yang baku dan permanen, sedang Cupak Buatan adalah adat yang ditetapkan oleh Orang Cadiak Pandai dan Ninik Mamak di nagari-nagari untuk merespon situasi dan perubahan zaman. Namun keduanya, yang tetap dan yang berubah, adalah lembaga yang diakui dalam adat.

Istilah cupak usali dan cupak buatan ini juga digunakan untuk mengkategorikan lembaga lainnya, apakah termasuk yang pusaka lama atau kesepakatan baru.

Kato nan Ampek

Kato adalah salah satu lembaga yang sangat penting dalam masyarakat Minangkabau: tanpa kato, adat Minang kehilangan legitimasinya. Dalam banyak masyarakat dahulu, kekuasaan dan undang-undang dipegang oleh raja karena keturunannya. Dalam masyarakat agamis, kekuasaan disandarkan pada otoritas wahyu, dan dalam masyarakat moderen yang demokratis, hukum didasarkan pada konstitusi dan undang-undang tertulis.

Bagi masyarakat Minang, kesahihan suatu hukum diukur dengan ada tidaknya kato-kato adat yang mendasarinya. Undang-undang dibuat oleh Cerdik Pandai, mufakat dibuat oleh seluruh kaum, hukum diputuskan oleh Penghulu. Akan tetapi landasan dan acuannya adalah kato. Suatu pernyataan atau keputusan haruslah sesuai dengan salah satu dari empat macam kato seperti di bawah ini:

1. Kato Pusako 2. Kato Mufakat 3. Kato dahulu batapati 4. Kato kudian kato bacari 

Kato Pusako adalah pepatah petitih dan segala undang-undang adat Minangkabau yang sudah diwarisi turun temurun dan sama di seluruh alam Minangkabau. Kato Pusako ini merupakan acuan tertinggi dan tidak dapat diubah. Jumlahnya sangat banyak dan merupakan kompilasi kebijasanaan yang diambil dari falsafah Alam Takambang Jadi Guru.

Kato Mufakat adalah hasil mufakat kaum dan para penghulu yang harus dipatuhi dan diajalankan bersama-sama. Mufakat di Minangkabau haruslah dengan suara bulat, dan tidak dapat dilakukan voting. Dikatakan dalam pepatah adat:

Kemenakan barajo ka mamak Mamak barajo ka penghulu Penghulu barajo ka mufakat Mufakat barajo ka Nan Bana Bana bardiri sandirinyo 

Kato dahulu batapati, artinya keputusan yang sudah diambil dengan suara bulat itu haruslah ditepati dan dilaksanakan.

Kato kudian kato bacari, artinya keputusan itu ada kemungkinan tidak dapat dijalankan karena suatu hal. Dalam hal ini harus dicari pemecahannya, dilakukan musyawarah dan dibuat kesepakatan baru. Adalah bertentagan dengan adat jika suatu keputusan harus dipaksakan, tanpa memberi peluang untuk mengajukan keberatan atau banding.

Undang nan Ampek

Ninik moyang orang Minangkabau sudah menetapkan Undang-undang yang menjadi dasar pemerintahan adat zaman dahulu, mencakup pemerintahan Luhak dan Rantau, pemerintahan Nagari dan peraturan yang berlaku untuk Suku dan Nagari. Juga peraturan untuk individu.

1. Undang-undang Luhak dan Rantau 2. Undang-undang Nagari 3. Undang-undang dalam Nagari 4. Undang-undang nan Duopuluh 

Undang-undang Luhak dan Rantau menyatakan bahwa di daerah Luhak berlaku pemerintahan oleh Penghulu sedang di daerah Rantau berlaku pemerintahan oleh Raja-raja.

Undang-undang Nagari menentukan syarat-syarat pembentukan suatu Nagari. Nagari boleh dibentuk jika sudah terdapat sekurangnya empat suku, yang masing-masing suku itu harus terdiri dari beberapa paruik. Suatu nagari harus mencukupi dibidang ekonomi dan budaya: mempunyai sawah ladang, balai adat dan mesjid, sarana transportasi, air bersih, lapangan bermain.

Undang-undang dalam Nagari mengatur hak dan kewajiban penduduk Nagari: saling bertolong-tolongan, tidak menyakiti dan menganiaya orang lain, membayar hutang dan mengembalikan barang yang dipinjam, meminta maaf jika bersalah, dan sebagainya. Di sini sangat berperan mekanisme kontrol yang bernama rasa malu

Undang-undang nan Duopuluh adalah undang-undang pidana: delapan bahagian merupakan tindak pidana, dan duabelas bagian merupakan tuduhan dan sangkaan.

Empat Undang-undang inilah pegangan para penghulu dalam menjalankan pemeritahan di Nagari-nagari, dengan dibantu oleh Manti, Malin dan Dubalang.

adat istiadat minangkabau

Adat Minangkabau pada dasarnya sama seperti adat pada suku-suku lain, tetapi dengan beberapa perbedaan atau kekhasan yang membedakannya. Kekhasan ini terutama disebabkan karena masyarakat Minang sudah menganut sistem garis keturunan menurut Ibu, matrilinial, sejak kedatangannya di wilayah Minangkabau sekarang ini. Bold text Kekhasan lain yang sangat penting ialah bahwa adat Minang merata dipakai oleh setiap orang di seluruh pelosok nagari dan tidak menjadi adat para bangsawan dan raja-raja saja. Setiap individu terikat dan terlibat dengan adat, hampir semua laki-laki dewasa menyandang gelar adat, dan semua hubungan kekerabatan diatur secara adat.

Pada tataran konseptional, adat Minang terbagi pada empat kategori:

Adat nan sabana adat
Adat nan teradat
Adat nan diadatkan
Adat istiadat

Adat mengatur interaksi dan hubungan antar sesama anggota masyarakat Minangkabau, baik dalam hubungan yang formal maupun yang tidak formal, sesuai dengan pepatah, bahwa sejak semula ada tiga adat nan tajoli:

Partamo sambah manyambah,
kaduo siriah jo pinang,
katigo baso jo basi.
Banamo adat sopan santun.

Tajoli dari kata ‘joli’, sejoli=sepasang, (joli=kereta tandu, teman sejoli berarti teman satu kereta tandu sehingga sangat akrab) satu set. Jadi ketiga bagian adat di atas adalah satu set yang berjalan seiring, diprektekkan dalam kehidupan sehari-hari orang Minang, baik orang biasa maupun para penghulu dan cerdik pandainya.

Secara legalistik atau kelembagaan, adat Minang dapat dirangkum dalam Limbago nan Sapuluah, yaitu:

Cupak nan duo
Kato nan ampek
Undang nan ampek

Cupak nan Duo ialah Cupak Usali dan Cupak Buatan Kato nan Ampek ialah:

Kato Pusako
Kato Mupakat
Kato Dahulu Batapati
Kato Kudian Kato Bacari

Undang nan Ampek ialah:

Undang-undang Luhak dan Rantau
Undang-undang Nagari
Undang-undang Dalam Nagari
Undang-undang nan Duopuluah

EMPAT JENIS ADAT DI MINANGKABAU

Adat Minang mencakup suatu spektrum dari yang paling umum hingga yang paling khusus, dari yang paling permanen dan tetap hingga yang paling mercurial dan sering berubah-ubah, bahkan ad-hoc. Di sini adat Minang disebut Adat nan Ampek.

1). Adat nan Sabana Adat, adat yang paling stabil dan umum, dan sebenarnya berlaku bukan hanya di Minangkabau saja, melainkan di seluruh alam semesta ini. Disepakati bahwa adat yang sebenarnya adat adalah Hukum Alam atau Sunnatullah, dan Hukum Allah yang tertuang di dalam ajaran Islam. Dengan mengambil Alam takambang menjadi guru adat Minang dapat menjamin kompatibilitasnya untuk segala zaman dan dengan demikian menjaga kelangsungannya di hadapan budaya asing yang melanda. Masuknya agama Islam ke Minangkabau, juga telah melengkapi Adat Minang itu menjadi kesatuan yang mencakup unsur duniawi dan unsur transedental.

2)adat nan teradat

3) Adat nan Diadatkan. Adat Minang menjadi adat Minang adalah karena suatu identitas dengan kesatuan etnis dan wilayah : adat Minang adalah adat yang diadatkan oleh Orang Minang, di Minangkabau. Jadi adat Minang itu sama di seluruh Minangkabau, dan setiap orang Minang be dan leluasa membuat penyesuaian-penyesuaian, maka adat itu akan bertahan dan dapat memenuhi kebutuhan masyarakatnya akan sense of order. Tidak ada unsur paksaan yang akan terasa jika adat itu monolitik dan seragam di seluruh wilayah.

4). Adat Istiadat. Ialah adat yang terjadi dengan sendirinya karena interaksi antar anggota masyarakat dan antar anggota masyarakat dengan dunia luar. Dinamakan juga adat sepanjang jalan yang datang dan pergi, dan ditolerir selama tidak melanggar adat yang tiga di atas. Pengakuan akan adanya adat-sitiadat ini menjadikan adat Minang lebih komplit dan memberi ruang bagi anggota masyarakat untuk bereksperimen dengan hal-hal baru dan memperkaya budayanya.

Empat macam adat diatas adalah adat Minang semuanya dan menjadi suatu kesatuan yang utuh. Keempatnya tidak dapat dipisahkan, dan tidak dapat dikatakan adat Minang kalau kurang salah satu: Bukanlah adat Minang jika hanya terfokus pada adat istiadat akan tetapi melawan Hukum Alam. Dan buknlah pula adat Minang jika hanya berbicara tentang pengangkatan Penghulu, tetapi tidak memberi ruang untuk berlakunya adat istiadat yang dipakai oleh orang kebanyakan.

== Implementasi Adat Minangkabau == Dikatakan dalam pepatah adat: Partamo sambah manyambah, kaduo siriah jo pinang, katigo baso jo basi. Banamo adat sopan santun.

Rangkaian kata-kata pusako ini menyatakan bahwa adat Minangkabau secara sederhana dapat disimpulkan perwujudannya menjadi tiga hal:

1). Pasambahan.

Adat Minang sarat dengan formalitas dan interaksi yang dikemas sedemikian rupa sehingga acara puncaknya tidak sah, tidak valid, jika belum disampaikan dengan bahasa formal yang disebut pasambahan. Acara-acara adat, mulai dari yang simple seperti mamanggia, yaitu menyampaikan undangan untuk menghadiri suatu acara, hingga yang sakral dan diagungkan sebagai acara kebesaran adat, seperti “Batagak Gala”, yaitu pengangkatan seseorang menjadi Pangulu, selalu dilaksanakan dengan sambah-manyambah.

Sambah-manyambah di sini tidak ada hubungannya dengan menyembah Tuhan, dan orang Minang tidak menyembah penghulu atau orang-orang terhormat dalam kaumnya. Melainkan yang dimaksud adalah pasambahan kato. Artinya pihak-pihak yang berbicara atau berdialog mempersembakan kata-katanya dengan penuh hormat, dan dijawab dengan cara yang penuh hormat pula. Untuk itu digunakan suatu varian Bahasa Minang tertentu, yang mempunyai format baku.

Format bahasa pasambahan ini penuh dengan kata-kata klasik, pepatah-petitih dan dapat pula dihiasi pula dengan pantun-pantun. Bahasa pasambahan ini dapat berbeda dalam variasi dan penggunaan kata-katanya. Namun secara umum dapat dikatakan ada suatu format yang standar bagi seluruh Minangkabau.

Dalam pelaksanaan pasambahan, dalam adat Minang digariskan penentuan peran masing-masing pihak dalam setiap pembicaraan, pihak-pihak yang berbicara ditentukan kedudukannya secara formal, misalnya sebagai tuan rumah yang disebut “si Pangka”, sebagai tamu yang disebut “si Alek”, sebagai pemohon (yang mengajukan maksud dan tujuan perayaan}, atau sebagai yang menerima permohonan (pihak kebesaran adat yang memiliki kewenangan dalam legalitas perayaan alek/perhelatan).

2). Sirih dan pinang

Sirih dan pinang adalah lambang fromalitas dalam interaksi komunikasi adat masyarakat Minangkabau. Setiap acara penting dimulai dengan menghadirkan sirih dan kelengkepannya seperti buah pinang, gambir, kapur dari kulit kerang. Biasanya ditaruh diatas carano yang diedarkan kepada hadirin. Siriah dan pinang dalam situasi tertentu diganti dengan menawarkan rokok.

Makna sirih adalah secara simbolik, sebagai pemberian kecil antara pihak-pihak yang akan mengadakan suatu pembicaran. Suatu pemberian dapat juga berupa barang berharga, meskipun nilai simbolik suatu pemberian tetap lebih utama daripada nilai intrinsiknya. Dalam pepatah adat disebutkan, siriah nan diateh, ameh nan dibawah. Dengan sirih suatu acara sudah menjadi acara adat meskipun tidak atau belum disertai dengan pasambahan kato.

Sirih dan pinang juga mempunyai makna pemberitahuan, adat yang lahiriah, baik pemberitahuan yang ditujukan pada orang tertentu atau pada khalayak ramai. Karena itu, helat perkawinan termasuk dalam bab ini.

3). Baso-basi

Satu lagi unsur adat Minang yang penting dan paling meluas penerapannya adalah baso-basi: bahkan anak-anak harus menjaga baso-basi. Tuntuan menjaga baso-basi mengharuskan setiap invidu agar berhubungan dengan orang lain, harus selalu menjaga dan memelihara kontak dengan orang disekitarnya secara terus-menerus (interaksi sosial. Sebagai orang Minang tidak boleh individualistis dalam kehidupannya.

Baso-basi diimplementasikan dengan cara yang baku. Walaupun tidak dapat dikatakan formal, baso-basi berfungsi menjaga forms, yaitu hubungan yang selain harmonis juga formal antara setiap anggota masyarakat nagari, dan menjamin bahwa setiap orang diterima dalam masyarakat itu, dan akan memenuhi tuntutan hidup bermasyarakat sesuai dengan adat yang berlaku di nagari itu.
Kelembagaan Adat MinangEdit

Satu hal yang sangat penting adalah bahwa bagi orang Minang, adat itu adalah suatu Limbago, atau lembaga, dan mengandung unsur-unsur yang merupakan lembaga juga. Penghulu adalah lembaga, urang sumando adalah lembaga. Demikian juga perkawinan, suku, hukum, semuanya adalah lembaga. Dalam pepatah dikatakan:

Adat diisi, limbago dituang.

Jadi adat adalah sesuatu yang diisi, dipenuhi dan dilaksanakan, sedangkan lembaga adalah suatu jabatan, suatu aturan dasar atau undang-undang yang dibentuk dan ditetapkan untuk jangka waktu yang lama. Lembaga tidak boleh sering diubah atau diganti, lembaga harus permanen — dikiaskan dengan logam cor atau besi tuang.
Cupak nan DuoEdit

Cupak adalah alat takaran. Alat takar lain sering disebut, seperti gantang, taraju, bungka. Maksud alat-alat ini adalah simbol lembaga hukum yang menjadi acuan bagi masayarakat dalam menjalankan dan mengembangkan adatnya. Sebagaimana masyarakat yang sederhana mungkin dapat melaksanakan perdagangan dengan ukuran kira-kira, misalnya menjual beras sekarung, jagung seongook dan seterunsnya, maka masyarakat yang teratur mangharuskan adanya takaran yang pasti, seperti liter, kilogram dan sebagainya. Maka cupak dan gantang, bungka nan piawai, serta taraju nan tak paliang, adalah lambang kateraturan yang diciptakan dengan lembaga adat.

Cupak nan dua adalah

1. Cupak Usali, dan
2. Cupak Buatan.

Kedua cupak ini menjamin change and continuity dalam adat Minang. Cupak Usali adalah adat yang baku dan permanen, sedang Cupak Buatan adalah adat yang ditetapkan oleh Orang Cadiak Pandai dan Ninik Mamak di nagari-nagari untuk merespon situasi dan perubahan zaman. Namun keduanya, yang tetap dan yang berubah, adalah lembaga yang diakui dalam adat.

Istilah cupak usali dan cupak buatan ini juga digunakan untuk mengkategorikan lembaga lainnya, apakah termasuk yang pusaka lama atau kesepakatan baru.
Kato nan AmpekEdit

Kato adalah salah satu lembaga yang sangat penting dalam masyarakat Minangkabau: tanpa kato, adat Minang kehilangan legitimasinya. Dalam banyak masyarakat dahulu, kekuasaan dan undang-undang dipegang oleh raja karena keturunannya. Dalam masyarakat agamis, kekuasaan disandarkan pada otoritas wahyu, dan dalam masyarakat moderen yang demokratis, hukum didasarkan pada konstitusi dan undang-undang tertulis.

Bagi masyarakat Minang, kesahihan suatu hukum diukur dengan ada tidaknya kato-kato adat yang mendasarinya. Undang-undang dibuat oleh Cerdik Pandai, mufakat dibuat oleh seluruh kaum, hukum diputuskan oleh Penghulu. Akan tetapi landasan dan acuannya adalah kato. Suatu pernyataan atau keputusan haruslah sesuai dengan salah satu dari empat macam kato seperti di bawah ini:

1. Kato Pusako
2. Kato Mufakat
3. Kato dahulu batapati
4. Kato kudian kato bacari

Kato Pusako adalah pepatah petitih dan segala undang-undang adat Minangkabau yang sudah diwarisi turun temurun dan sama di seluruh alam Minangkabau. Kato Pusako ini merupakan acuan tertinggi dan tidak dapat diubah. Jumlahnya sangat banyak dan merupakan kompilasi kebijasanaan yang diambil dari falsafah Alam Takambang Jadi Guru.

Kato Mufakat adalah hasil mufakat kaum dan para penghulu yang harus dipatuhi dan diajalankan bersama-sama. Mufakat di Minangkabau haruslah dengan suara bulat, dan tidak dapat dilakukan voting. Dikatakan dalam pepatah adat:

Kemenakan barajo ka mamak
Mamak barajo ka penghulu
Penghulu barajo ka mufakat
Mufakat barajo ka Nan Bana
Bana bardiri sandirinyo

Kato dahulu batapati, artinya keputusan yang sudah diambil dengan suara bulat itu haruslah ditepati dan dilaksanakan.

Kato kudian kato bacari, artinya keputusan itu ada kemungkinan tidak dapat dijalankan karena suatu hal. Dalam hal ini harus dicari pemecahannya, dilakukan musyawarah dan dibuat kesepakatan baru. Adalah bertentagan dengan adat jika suatu keputusan harus dipaksakan, tanpa memberi peluang untuk mengajukan keberatan atau banding.
Undang nan AmpekEdit

Ninik moyang orang Minangkabau sudah menetapkan Undang-undang yang menjadi dasar pemerintahan adat zaman dahulu, mencakup pemerintahan Luhak dan Rantau, pemerintahan Nagari dan peraturan yang berlaku untuk Suku dan Nagari. Juga peraturan untuk individu.

1. Undang-undang Luhak dan Rantau
2. Undang-undang Nagari
3. Undang-undang dalam Nagari
4. Undang-undang nan Duopuluh

Undang-undang Luhak dan Rantau menyatakan bahwa di daerah Luhak berlaku pemerintahan oleh Penghulu sedang di daerah Rantau berlaku pemerintahan oleh Raja-raja.

Undang-undang Nagari menentukan syarat-syarat pembentukan suatu Nagari. Nagari boleh dibentuk jika sudah terdapat sekurangnya empat suku, yang masing-masing suku itu harus terdiri dari beberapa paruik. Suatu nagari harus mencukupi dibidang ekonomi dan budaya: mempunyai sawah ladang, balai adat dan mesjid, sarana transportasi, air bersih, lapangan bermain.

Undang-undang dalam Nagari mengatur hak dan kewajiban penduduk Nagari: saling bertolong-tolongan, tidak menyakiti dan menganiaya orang lain, membayar hutang dan mengembalikan barang yang dipinjam, meminta maaf jika bersalah, dan sebagainya. Di sini sangat berperan mekanisme kontrol yang bernama rasa malu

Undang-undang nan Duopuluh adalah undang-undang pidana: delapan bahagian merupakan tindak pidana, dan duabelas bagian merupakan tuduhan dan sangkaan.

Empat Undang-undang inilah pegangan para penghulu dalam menjalankan pemeritahan di Nagari-nagari, dengan dibantu oleh Manti, Malin dan Dubalang.

Hadist Tentang Berwudhu

Apa-apa yang diwahyukan mengenai wudhu dan firman Allah, “Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuhlah) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (al-Maa’idah: 6)

Abu Abdillah berkata, “Nabi saw. menjelaskan bahwa kewajiban wudhu itu sekali-sekali.[1] Beliau juga berwudhu dua kali-dua kali.[2] Tiga kali-tiga kali,[3] dan tidak lebih dari tiga kali.[4] Para ahli ilmu tidak menyukai berlebihan dalam berwudhu, dan melebihi apa yang dilakukan oleh Nabi saw.

Bab Ke-2: Tiada Shalat yang Diterima Tanpa Wudhu
90. Abu Hurairah r.a. berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Tidaklah diterima shalat orang yang berhadats sehingga ia berwudhu.’ Seorang laki-laki dari Hadramaut bertanya, “Apakah hadats itu, wahai Abu Hurairah?” Ia menjawab, “Kentut yang tidak berbunyi atau kentut yang berbunyi.

Bab Ke-3: Keutamaan Wudhu dan Orang-Orang yang Putih Cemerlang Wajah, Tangan, serta Kakinya karena Bekas Wudhu
91. Nu’aim al-Mujmir r.a. berkata, “Saya naik bersama Abu Hurairah ke atas masjid. Ia berwudhu lalu berkata, ‘Sesungguhnya aku pernah mendengar Nabi bersabda, ‘Sesungguhnya pada hari kiamat nanti umatku akan dipanggil dalam keadaan putih cemerlang dari bekas wudhu. Barangsiapa yang mampu untuk memperlebar putihnya, maka kerjakanlah hal itu.”

Bab Ke-4: Tidak Perlunya Berwudhu karena Ada Keragu-raguan Saja Hingga Dia Yakin Sudah Batal Wudhunya.
92. Dari Abbad bin Tamim dari pamannya, bahwa ia mengadu kepada Rasululah saw. tentang seseorang yang membayangkan bahwa ia mendapat sesuatu (mengeluarkan buang angin) dalam shalat, maka beliau bersabda, “Janganlah ia menoleh atau berpaling sehingga ia mendengar suara, atau mendapatkan baunya.”
(Dan dalam riwayat mu’allaq : Tidak wajib wudhu kecuali jika engkau mendapatkan baunya atau mendengar suaranya 3/5).[6]

Bab Ke-5: Meringankan dalam Melakukan Wudhu

93. Ibnu Abbas r.a. berkata, “Pada suatu malam saya menginap di rumah bibiku, yaitu Maimunah [binti al-Harits, istri Nabi saw, 1/38] [dan pada malam itu Nabi saw berada di sisinya karena saat gilirannya. Lalu Nabi saw mengerjakan shalat isya, kemudian pulang ke rumah, lalu mengerjakan shalat empat rakaat]. [Saya berkata, “Sungguh saya akan memperhatikan shalat Rasulullah saw..” 5/175]. [Kemudian Rasulullah saw bercakap-cakap dengan istrinya sesaat, lantas istrinya melemparkan bantal kepada beliau], [kemudian beliau tidur 5/174]. [Kemudian saya berbaring di hamparan bantal itu, dan Rasulullah saw. berbaring dengan istrinya di bagian panjangnya bantal itu, lalu Rasulullah saw tidur hingga tengah malam, atau kurang sedikit atau lebih sedikit 2/58]. Kemudian Nabi saw bangun malam itu (dan dalam satu riwayat: Kemudian Rasulullah saw bangun, lalu duduk, lantas mengusap wajahnya dengan tangannya terhadap bekas tidurnya [lalu memandang ke langit], kemudian membaca sepuluh ayat dari bagian-bagian akhir surah Ali Imran). (Dan pada suatu riwayat: Yaitu ayat “Inna fii khalqis samaawaati wal-ardhi wakhtilaafil-laili wannahaari la-aayaatin li-ulil albaab”). Lalu beliau menyelesaikan keperluannya, mencuci mukanya dan kedua tangannya, kemudian tidur]. Pada malam harinya itu Nabi saw. bangun dari tidur. Setelah lewat sebagian waktu malam (yakni tengah malam), Nabi saw. berdiri lalu berwudhu dari tempat air yang digantungkan dengan wudhu yang ringan -Amr menganggapnya ringan dan sedikit [sekali 1/208]. (Dan pada satu riwayat disebutkan: dengan satu wudhu di antara dua wudhu tanpa memperbanyak 7/148), [dan beliau menyikat gigi], [kemudian beliau bertanya, “Apakah anak kecil itu sudah tidur?” Atau, mengucapkan kalimat lain yang serupa dengan itu]. Dan (dalam satu riwayat: kemudian) beliau berdiri shalat [Lalu saya bangun], (kemudian saya membentangkan badan karena takut beliau mengetahui kalau saya mengintipnya 7/148]. Kemudian saya berwudhu seperti wudhunya. Saya datang lantas berdiri di sebelah kirinya (dengan menggunakan kata “yasar”)- dan kadang-kadang Sufyan menggunakan kata “syimal”. [Lalu Rasulullah saw. meletakkan tangan kanannya di atas kepalaku, dan memegang telinga kanan saya sambil memelintirnya]. (Dan menurut jalan lain: lalu beliau memegang kepala saya dari belakang 1/177. Pada jalan lain lagi, beliau memegang tangan saya atau lengan saya, dan beliau berbuat dengan tangannya dari belakang saya 1/178). Lalu, beliau memindahkan saya ke sebelah kanannya,[7] kemudian beliau shalat sebanyak yang dikehendaki oleh Allah. (Dan menurut satu riwayat : lalu beliau shalat lima rakaat, kemudian shalat dua rakaat. Pada riwayat lain lagi, beliau shalat dua rakaat, dua rakaat, dua rakaat, dua rakaat, dua rakaat, dan dua rakaat lagi, kemudian shalat witir. Dan dalam satu riwayat, beliau mengerjakan shalat sebelas rakaat). (Dan pada riwayat lain disebutkan bahwa sempurnalah shalat nya tiga belas rakaat). Kemudian beliau berbaring lagi dan tidur sampai suara napasnya kedengaran. (Dalam satu riwayat: sehingga saya mendengar bunyi napasnya) [dan apabila beliau tidur biasa berbunyi napasnya]. Kemudian muazin (dalam satu riwayat: Bilal) mendatangi beliau dan memberitahukan bahwa waktu shalat telah tiba, [lalu beliau mengerjakan shalat dua rakaat yang ringan/ringkas, kemudian keluar]. Kemudian Nabi pergi bersamanya untuk shalat, lalu beliau mengimami [shalat Subuh bagi orang banyak] tanpa mengambil wudlu yang baru.” [Dan beliau biasa mengucapkan dalam doanya:
Ya Allah, jadikanlah cahaya di dalam hatiku, cahaya di dalam pandanganku, cahaya di dalam pendengaranku, cahaya di sebelah kananku, cahaya di sebelah kiriku, cahaya di atasku, cahaya di bawahku, cahaya di depanku, cahaya di belakangku. Dan, jadikanlah untukku cahaya.’]”.
Kuraib berkata, “Dan, tujuh di dalam tabut (peti). Kemudian saya bertemu salah seorang anak Abbas, lalu ia memberitahukan kepadaku doa itu, kemudian dia menyebutkan:
Dan (cahaya) pada sarafku, pada dagingku, pada darahku, pada rambutku, dan pada kulitku.”
Dia menyebutkan dua hal lagi. Kami (para sahabat) berkata kepada Amr, “Sesungguhnya orang-orang itu mengatakan bahwa sesungguhnya Rasulullah saw itu tidur kedua matanya dan tidak tidur hatinya.” Amr menjawab, “Aku mendengar Ubaid bin Umair[8] mengatakan bahwa mimpi Nabi adalah wahyu. Kemudian Ubaid membacakan ayat, “Innii araa fil manami annii adzbahuka” ‘Aku (Ibrahim) bermimpi (wahai anakku) bahwa aku menyembelihmu (sebagai kurban bagi Allah)’.” (ash-Shaaffat: 102)

Bab Ke-6: Menyempurnakan Wudhu

Ibnu Umar berkata, “Menyempurnakan wudhu berarti mencuci anggota wudhu secara sempurna.”[9]
(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan hadits Usamah dengan isnadnya yang akan disebutkan pada [25 -Al Hajj/ 94 – BAB].”
Bab Ke-7: Membasuh Muka dengan Kedua Belah Tangan dengan Segenggam Air
94. Ibnu Abbas r.a. mengatakan bahwa ia berwudhu, yaitu ia membasuh wajahnya, ia mengambil seciduk air, lalu berkumur dan istinsyaq ‘menghirup air ke hidung’ dengannya. Kemudian ia mengambil seciduk air dan menjadikannya seperti itu, ia menuangkan ke tangannya yang lain lalu membasuh mukanya (wajahnya) dengannya. Kemudian ia mengambil seciduk air lalu membasuh tangannya yang kanan. Lalu ia mengambil seciduk air lalu membasuh tangannya yang kiri dengannya, kemudian mengusap kepalanya. Kemudian ia mengambil seciduk air lalu memercikkan pada kakinya yang kanan sambil membasuhnya. Kemudian ia mengambil seciduk yang lain lalu membasuh kakinya yang kiri. Kemudian ia berkata, “Demikianlah saya melihat Rasulullah saw berwudhu.

Bab Ke-8: Mengucapkan Basmalah dalam Segala Keadaan dam ketika Hendak Bersetubuh

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Abbas yang akan disebutkan pada [67 -An Nikah / 67 – BAB].”)

Bab Ke-9: Apa yang Diucapkan ketika Masuk ke W.C.

95. Anas berkata, “Apabila Nabi saw. masuk (dan dalam riwayat mu’allaq[10] : datang, dan pada riwayat lain[11]: apabila hendak masuk) ke kamar kecil (toilet) beliau mengucapkan,

“Allaahumma inni a’uudzu bika minal khubutsi wal khabaa itsi ‘Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada Mu dari setan laki-laki dan setan wanita’.”

Bab Ke-10: Meletakkan Air di Dekat W.C.

96. Ibnu Abbas r.a mengatakan bahwa Nabi saw masuk ke kamar kecil (W.C.), lalu saya meletakkan air wudhu untuk beliau. Lalu beliau bertanya, “Siapakah yang meletakkan ini (air wudhu)?” Kemudian beliau diberitahu. Maka, beliau berdoa, “Allaahumma faqqihhu fiddiin ‘YaAllah, pandaikanlah ia dalam agama'”

Bab Ke-11: Tidak Boleh Menghadap Kiblat ketika Buang Air Besar atau Kecil Kecuali Dibatasi Bangunan, Dinding, atau yang Sejenisnya

97. Abu Ayyub al-Anshari r.a. berkata, “Rasulullah saw bersabda, Apabila salah seorang di antaramu datang ke tempat buang air besar, maka janganlah ia menghadap ke kiblat dan jangan membelakanginya. [Akan tetapi, l/103] menghadaplah ke timur atau ke barat (karena letak Madinah di sebelah utara Kabah-penj).'”

[Abu Ayyub berkata, “Lalu kami datang ke Syam, maka kami dapati toilet-toilet menghadap ke kiblat. Kami berpaling dan beristighfar (memohon ampun) kepada Allah Ta’ala”]

Bab Ke-12: Buang Air Besar dengan Duduk di Atas Dua Buah Batu

98. Abdullah bin Umar r.a. berkata, “Sesungguhnya orang-orang berkata, ‘Apabila kamu berjongkok untuk menunaikan hajat (buang air besar/kecil), maka janganlah menghadap ke kiblat dan jangan pula ke Baitul Maqdis'” Lalu Abdullah bin Umar berkata, “Sungguh pada suatu hari saya naik ke atap rumah kami (dan dalam satu riwayat: rumah Hafshah, karena suatu keperluan 1/46), lalu saya melihat Rasulullah saw di antara dua batu [membelakangi kiblat] menghadap ke Baitul Maqdis (dan dalam satu riwayat: menghadap ke Syam) untuk menunaikan hajat beliau.” Beliau bersabda, “Barangkali engkau termasuk orang-orang yang shalat di atas pangkal paha.” Saya menjawab, “Tidak tahu, demi Allah.” Imam Malik berkata, “Yakni orang yang shalat tanpa mengangkat tubuhnya dari tanah, sujud dengan menempel di tanah.”

Bab Ke-13: Keluarnya Wanita untuk Buang Air Besar

99. Aisyah r.a. mengatakan bahwa istri-istri Nabi saw keluar malam hari apabila mereka buang air besar/kecil di Manashi’ yaitu tempat tinggi yang sedap. Umar berkata kepada Nabi saw., “Tirai-lah istri engkau.” Namun, Rasulullah saw tidak melakukannya. Saudah bin Zam’ah istri Nabi saw keluar pada salah satu malam di waktu isya. Ia adalah seorang wanita yang tinggi, lalu Umar memanggilnya [pada waktu itu dia di dalam majelis, lalu berkata], “Ingatlah, sesungguhnya kami telah mengenalmu, wahai Saudah!” Dengan harapan agar turun (perintah) bertirai. [Saudah berkata], “Maka, Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat tentang hijab (perintah untuk bertirai).”[12]

Bab Ke-14: Buang Air di Rumah-Rumah

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Umar yang termaktub pada nomor 98 di muka.”)

Bab Ke-15: Bersuci dengan Air Setelah Buang Air Besar

100. Anas bin Malik r.a. berkata, “Apabila Nabi saw keluar untuk (menunaikan) hajat beliau, maka saya menyambut bersama anak-anak [kami 1/ 47] [sambil kami bawa tongkat, dan 1/127] kami bawa tempat air. [Maka setelah beliau selesai membuang hajat nya, kami berikan tempat air itu kepada beliau] untuk bersuci dengannya.”

Bab Ke-16: Orang yang Membawa Air untuk Bersuci

Abud Darda’ berkata, “Tidak adakah di antara kalian orang yang mempunyai dua buah sandal dan air untuk bersuci serta bantal?”[13]

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari telah meriwayatkan dengan sanadnya hadits Anas di muka tadi.”)

Bab Ke-17: Membawa Tongkat Beserta Air dalam Beristinja

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Anas yang diisyaratkan di muka.”)

Bab Ke-18: Larangan Beristinja dengan Tangan Kanan

101. Abu Qatadah r.a. berkata, “Rasulullah saw. bersabda, Apabila salah seorang dari kamu minum, maka jangan bernapas di tempat air itu; dan apabila datang ke kamar kecil, maka janganlah memegang (dalam satu riwayat: jangan sekali-kali memegang) kemaluannya dengan tangan kanannya. [Apabila salah seorang dari kamu mengusap, maka 6/ 250] jangan mengusap (dan dalam riwayat lain: bersuci) dengan tangan kanannya.”

Bab Ke-19: Tidak Boleh Memegang Kemaluan dengan Tangan Kanan ketika Kencing

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abu Qatadah sebelum ini.”)

Bab Ke-20: Beristinja dengan Batu

(Saya berkata, “Dalam bab ini Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abu Hurairah yang akan disebutkan pada [62-Al-Manaqib/20-BAB].”)

Bab Ke-21: Tidak Boleh Beristinja dengan Kotoran Binatang

102. Abdullah (bin Mas’ud) berkata, “Nabi saw hendak buang air besar, lalu beliau menyuruh saya untuk membawakan beliau tiga batu. Saya hanya mendapat dua batu dan saya mencari yang ketiga namun saya tidak mendapatkannya. Lalu, saya mengambil kotoran binatang, kemudian saya bawa kepada beliau. Beliau mengambil dua batu itu dan melemparkan kotoran tersebut, dan beliau bersabda, ‘Ini adalah kotoran.'”

Bab Ke-22: Berwudhu Sekali-Sekali

103. Ibnu Abbas r.a. berkata, “Nabi saw berwudhu sekali-sekali.”

Bab Ke-23: Berwudhu Dua Kali-Dua Kali

104. Dari Abbad bin Tamim dari Abdullah bin Zaid bahwa Nabi saw. berwudhu dua kali-dua kali.

Bab Ke-24: Berwudhu Tiga Kali-Tiga Kali

105. Humran, bekas hamba sahaya Utsman, mengatakan bahwa ia melihat Utsman bin Affan minta dibawakan bejana (air). (Dan dalam satu riwayat darinya, ia berkata, “Aku membawakan Utsman air untuk bersuci, sedang dia duduk di atas tempat duduk, lalu dia berwudhu dengan baik 7/174). Lalu ia menuangkan air pada kedua belah tangannya tiga kali, lalu ia membasuh kedua nya. Kemudian ia memasukkan tangan kanannya di bejana, lalu ia berkumur, menghirup air ke hidung [dan mengeluarkannya, l/49]. Kemudian membasuh wajahnya tiga kali, dan membasuh kedua tangannya sampai ke siku tiga kali, lalu mengusap kepalanya, lalu membasuh kedua kakinya sampai ke dua mata kakinya tiga kali. Setelah itu ia berkata, [“Aku melihat Nabi saw. berwudhu di tempat ini dengan baik, kemudian] beliau bersabda, ‘Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini, kemudian [datang ke masjid, lalu] shalat dua rakaat, yang antara kedua shalat itu ia tidak berbicara kepada dirinya [tentang sesuatu 2/235], [kemudian duduk,] maka diampunilah dosanya yang telah lampau.'” [Utsman berkata, “Dan Nabi saw. bersabda, ‘Janganlah kamu terpedaya!’].

Dalam satu riwayat dari Humran disebutkan bahwa setelah Utsman selesai berwudhu, ia berkata, “Maukah aku ceritakan kepada kalian suatu hadits yang seandainya bukan karena suatu ayat Al-Qur’an, niscaya aku tidak akan menceritakannya kepada kalian? Saya mendengar Nabi saw bersabda, ‘Tidaklah seseorang berwudhu dengan wudhu yang baik lalu mengerjakan shalat, kecuali diampuni dosanya yang ada di antara wudhu dan shalat sehingga ia melakukan shalat. Urwah berkata, “Ayatnya ialah, “Innalladziina yaktumuuna maa anzalnaa minal bayyinaati” ‘Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang Kami turunkan berupa keterangan-keterangan yang jelas'”

Bab Ke-25: Menghirup Air Ke Hidung dan Mengembuskannya Kembali

Hal ini diriwayatkan oleh Utsman, Abdullah bin Zaid, dan Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu a’laihi wa sallam.[14]

106. Abu Hurairah berkata bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, “Barangsiapa berwudhu, hendaklah ia menghirup air ke hidung (dan mengembuskannya kembali); dan barangsiapa yang melakukan istijmar (bersuci dari buang air besar), hendaklah melakukannya dengan ganjil (tidak genap).”

Bab Ke-26: Mencuci Sisa-Sisa Buang Air Besar dengan Batu yang Berjumlah Ganjil

107. Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Apabila salah seorang di antara kamu wudhu hendaklah ia memasukkan air ke hidungnya kemudian hendaklah ia mengembuskannya, dan barangsiapa yang bersuci (dari buang air besar) hendaklah ia melakukannya dengan hitungan ganjil (tidak genap). Apabila salah seorang dari kamu bangun dari tidurnya, hendaklah ia membasuh tangannya sebelum ia memasukkan ke dalam air wudhunya. Sesungguhnya, salah seorang di antaramu tidak mengetahui di mana tangannya bermalam.”

Bab Ke-27: Membasuh Kedua Kaki[15]

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Ibnu Umar yang telah disebutkan pada Kitab ke-2 ‘Ilmu’, Bab ke-3, nomor hadits 42.”)

Bab Ke-28: Berkumur-Kumur dalam Wudhu

Hal ini diceritakan oleh Ibnu Abbas dan Abdullah bin Zaid dari Nabi Muhammad saw.[16]

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Utsman yang baru saja disebutkan pada hadits nomor 105.”)

Bab Ke-29: Membasuh Tumit

Ibnu Sirin biasa mencuci tempat cincinnya bila berwudhu[17]

108. Muhammad bin Ziyad berkata, “Aku mendengar Abu Hurairah sewaktu ia sedang berjalan melalui tempat kami dan pada saat itu orang-orang sedang berwudhu dari tempat air untuk bersuci, ia berkata, ‘Sempurnakanlah olehmu semua wudhumu[18] karena Abul Qasim (yakni Nabi Muhammad saw.) telah bersabda, ‘Celakalah bagi tumit-tumit itu dari siksa api neraka.'”

Bab Ke-30: Membasuh Kaki dalam Kedua Terompah dan Bukannya Mengusap di Atas Kedua Terompah[19]

109. Ubaid bin Juraij berkata kepada Abdullah bin Umar, “Hai Abu Abdurrahman, aku melihat Anda mengerjakan empat hal yang tidak pernah kulihat dari seorang pun dari golongan-golongan sahabat Anda yang mengerjakan itu.” Abdullah bertanya, “Apa itu, wahai Ibnu Juraij?” Ibnu Juraij berkata, “Aku melihat Anda tidak menyentuh tiang kecuali hajar aswad, aku melihat Anda memakai sandal yang tidak dengan bulu yang dicelup, aku melihat Anda mencelup dengan warna kuning, dan aku melihat Anda apabila di Mekah orang-orang mengeraskan suara bila melihat bulan, sedangkan Anda tidak mengeraskan suara sehingga tiba hari Tarwiyah (tanggal delapan Dzulhijjah).” [Lalu, 7/48] Abdullah bin Umar berkata [kepadanya], “Adapun tiang, karena aku tidak melihat Rasulullah menyentuh kecuali pada hajar aswad; adapun sandal yang tidak dengan bulu yang dicelup, karena aku melihat Rasulullah saw mengenakan sandal yang tidak ada rambutnya dan beliau wudhu dengan mengenakannya[20], lalu aku senang untuk mencelup dengannya. Adapun mengeraskan suara karena melihat bulan, aku tidak melihat Rasulullah saw. mengeraskan suara karena melihat bulan sehingga kendaraan keluar dengannya.”

Bab Ke-31: Mendahulukan yang Kanan dalam Berwudhu dan Mandi

110. Aisyah berkata, “Nabi Muhammad saw tertarik [dalam satu riwayat: senang, 6/197] untuk mendahulukan yang kanan (sedapat mungkin) dalam bersandal, bersisir, dan dalam seluruh urusan beliau.”

Bab Ke-32: Mencari Air Wudhu Apabila Telah Tiba Waktu Shalat

Aisyah berkata, “Waktu shalat subuh sudah tiba, lalu dicarilah air, tetapi tidak dijumpai, kemudian beliau bertayamum.”[21]

111. Anas bin Malik berkata, “Aku melihat Nabi Muhammad saw sedangkan waktu ashar telah tiba; orang-orang mencari air wudhu, namun mereka tidak mendapatkannya. [Maka pergilah orang yang rumahnya dekat masjid, 4/170] [kepada keluarganya, l/57] [untuk berwudhu, dan yang lain tetap di situ], lalu dibawakan tempat air wudhu kepada Rasulullah saw., lalu beliau meletakkan tangan beliau di bejana itu, (dalam satu riwayat: lalu didatangkan kepada Nabi Muhammad saw. bejana tempat mencuci/mencelup kain yang terbuat dari batu dan berisi air. Beliau lalu meletakkan telapak tangan beliau, tetapi bejana tempat mencelup ini tidak muat kalau telapak tangan beliau direnggangkan, lalu beliau kumpulkan jari jari beliau, kemudian beliau letakkan di dalam tempat mencuci/mencelup itu), dan beliau menyuruh orang-orang berwudhu dari air itu.” Anas berkata, “Aku melihat air itu keluar dari bawah jari-jari beliau sehingga orang yang terakhir dari mereka selesai berwudhu.” [Kami bertanya, “Berapa jumlah kalian?” Dia menjawab, “Delapan puluh orang lebih.”][22]

Bab Ke-33: Air yang Digunakan untuk Membasuh atau Mencuci Rambut Manusia

Atha’ memandang tidak ada salahnya untuk membuat benang-benang dan tali-tali dari rambut manusia. Dalam bab ini juga disebutkan tentang pemanfaatan sesuatu yang dijilat atau digigit oleh seekor anjing dan lewatnya anjing melewati masjid.[23]

Az-Zuhri berkata, “Apabila seekor anjing menjilat suatu bejana yang berisi air, sedangkan selain di tempat itu tidak ada lagi air yang dapat digunakan untuk berwudhu, bolehlah berwudhu dengan menggunakan air tersebut.”[24]

Sufyan berkata, “Ini adalah fatwa agama yang benar. Allah Ta’ala berfirman, “Falam tajiduu maa-an fatayammamuu” ‘dan apabila kamu tidak mendapatkan air, lakukanlah tayamum.'” Demikian itulah persoalan air, dan dalam hal bersuci ada benda yang dapat digunakan untuk berwudhu dan bertayamum.”[25]

112. Ibnu Sirin berkata, ‘Aku berkata kepada Abidah, ‘Kami mempunyai beberapa helai rambut Nabi Muhammad saw yang kami peroleh dari Anas atau keluarga Anas.’ Ia lalu berkata, ‘Sungguh, kalau aku mempunyai sehelai rambut dari beliau, itu akan lebih aku senangi daripada memiliki dunia dan apa saja yang ada di dunia ini.'”

113. Anas berkata bahwa ketika Rasulullah saw mencukur kepalanya, Abu Thalhah adalah orang pertama yang mengambil rambut beliau.

Bab Ke-34: Apabila Anjing Minum di dalam Bejana Salah Seorang dari Kamu, Hendaklah Ia Mencucinya Tujuh Kali

114. Abu Hurairah berkata, “Sesungguhnya, Rasulullah saw bersabda, ‘Apabila anjing minum dari bejana salah seorang di antaramu, cucilah bejana itu tujuh kali.'”

115. Abdullah (Ibnu Umar) berkata, “Anjing-anjing datang dan pergi (mondar-mandir) di masjid pada zaman Rasulullah saw dan mereka tidak menyiramkan air padanya.”

Bab Ke-35: Orang yang Berpendapat Tidak Perlu Berwudhu Melainkan karena Adanya Benda yang Keluar dari Dua Jalan Keluar Yakni Kubul dan Dubur Karena firman Allah, “Atau salah seorang dari kalian keluar dari tempat buang air (toilet).” (al-Maa’idah: 6)

Atha’ berkata mengenai orang yang dari duburnya keluar ulat atau dari kemaluannya keluar benda semacam kutu, maka orang itu wajib mengulangi wudhunya jika hendak melakukan shalat.[26]

Jabir bin Abdullah berkata, “Apabila seseorang tertawa di dalam shalat, ia harus mengulangi shalatnya, tetapi tidak mengulangi wudhunya.”[27]

Hasan berkata, “Apabila seseorang mengambil (memotong) rambutnya atau kukunya atau melepas sepatunya, ia tidak wajib mengulangi wudhunya.”[28]

Abu Hurairah berkata, ‘Tidaklah wajib mengulangi wudhu kecuali bagi orang-orang yang berhadats.”[29]

Jabir berkata, “Nabi berada di medan perang Dzatur Riqa’ dan seseorang terlempar karena sebuah panah dan darahnya mengucur, tetapi dia ruku, bersujud, dan meneruskan shalatnya.”[30]

Al-Hasan berkata, “Orang orang muslim tetap saja shalat dengan luka mereka.”[31]

Thawus, Muhammad bin Ali, Atha’ dan orang-orang Hijaz berkata, “Berdarah tidak mengharuskan pengulangan wudhu.”[32]

Ibnu Umar pernah memijit luka bisulnya sampai keluarlah darahnya, tetapi ia tidak berwudhu lagi.[33]

Ibnu Aufa pernah meludahkan darah lalu diteruskannya saja shalatnya itu.[34]

Ibnu Umar dan al-Hasan berkata, “Apabila seseorang mengeluarkan darahnya (yakni berbekam / bercanduk), yang harus dilakukan baginya hanyalah mencuci bagian yang dicanduk.”[35]

116. Zaid bin Khalid r.a. bertanya kepada Utsman bin Affan r.a., “Bagaimana pendapat Anda apabila seseorang bersetubuh [dengan istrinya, 1/76], namun tidak mengeluarkan air mani?” Utsman berkata, “Hendaklah ia berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat dan membasuh kemaluannya.” Utsman berkata, “Aku mendengarnya dari Rasulullah saw.” Zaid bin Khalid berkata, “Aku lalu menanyakan hal itu kepada Ali, Zubair, Thalhah, dan Ubay bin Ka’ab, mereka menyuruh aku demikian.”[36]

[Urwah ibnuz-Zubair berkata bahwa Abu Ayyub menginformasikan kepada nya bahwa dia mendengar yang demikian itu dari Rasulullah saw.]

117. Abu Said al-Khudri r.a. berkata bahwa Rasululah saw mengutus kepada seorang Anshar, lalu ia datang dengan kepala meneteskan (air), maka Rasulullah saw bersabda, “Barangkali kami telah menyebabkanmu tergesa-gesa.” Orang Anshar itu menjawab, “Ya”. Rasululah saw. bersabda, “Apabila kamu tergesa-gesa atau belum keluar mani maka wajib atasmu wudhu”.

Bab Ke-36: Seseorang yang Mewudhui Sahabatnya*1*)

Bab Ke-37: Membaca AI-Qur’an Sesudah Hadats dan Lain-lain

Manshur berkata dari Ibrahim, “Tidak apa-apa membaca Al-Qur’an di kamar mandi dan menulis surah tanpa berwudhu.”[37]

Hammad berkata dari Ibrahim, “Kalau dia memakai sarung, ucapkanlah salam, sedangkan jika tidak, jangan ucapkan salam”[38]

[Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan sanadnya hadits Ibnu Abbas yang tersebut pada nomor 92 di muka.”]

Bab Ke-38: Orang yang tidak Mengulangi Wudhu Kecuali Setelah Tertidur Nyenyak

118. Asma’ binti Abu Bakar berkata, “Aku mendatangi Aisyah (istri Nabi Muhammad saw.) pada saat terjadi gerhana matahari. Tiba-tiba orang-orang sudah sama berdiri melakukan shalat gerhana, Aisyah juga berdiri untuk melakukan shalat itu. Aku berkata kepada Aisyah, ‘Ada apa dengan orang-orang itu?’ Dia lalu mengisyaratkan tangannya [dalam satu riwayat: kepalanya, 2/69] ke arah langit dan berkata, ‘Subhanallah.’ Aku bertanya kepadanya, ‘Adakah suatu tanda di sana?’ Dia berisyarat [dengan kepalanya, yakni], ‘Ya.’ Maka, aku pun melakukan shalat, [lalu Rasulullah saw memanjangkan shalatnya lama sekali, 1/221] sampai aku tidak sadarkan diri, dan [di samping aku ada tempat air yang berisi air, lalu aku buka, kemudian] aku mengucurkan air ke kepalaku. [Nabi Muhammad saw. lalu berdiri dan memanjangkan masa berdirinya, kemudian ruku’ dan memanjangkan masa ruku’nya, kemudian berdiri lama sekali, lalu ruku’ lama sekali, kemudian beliau bangun[39], kemudian beliau sujud lama sekali, kemudian bangun, kemudian sujud lama sekali, kemudian berdiri lama sekali, kemudian ruku’ lama sekali, kemudian bangun dan berdiri lama sekali, kemudian ruku’ lama sekali, kemudian bangun, lalu sujud lama sekali, lalu bangun, kemudian sujud lama sekali, 1/181]. Setelah shalat [dan matahari telah cerah kembali, maka Rasulullah saw berkhotbah kepada orang banyak, dan] memuji Allah serta menyanjung-Nya [dengan sanjungan yang layak bagiNya], seraya berkata, ‘[Amma ba’du, Asma’ berkata, Wanita-wanita Anshar gaduh, lalu aku pergi kepada mereka untuk mendiamkan mereka. Aku lalu bertanya kepada Aisyah, ‘Apa yang beliau sabdakan?’ Dia menjawab,] “Tidak ada sesuatu yang tidak pernah aku lihat sebelumnya melainkan terlihat olehku di tempatku ini, termasuk surga dan neraka.” [Beliau bersabda, ‘Sesungguhnya, surga mendekat kepadaku, sehingga kalau aku berani memasukinya tentu aku bawakan kepadamu buah darinya; dan neraka pun telah dekat kepadaku, sehingga aku berkata, ‘Ya Tuhan, apakah aku akan bersama mereka?’ Tiba-tiba seorang perempuan-aku kira beliau berkata-, ‘Dicakar oleh kucing.’ Aku bertanya, ‘Mengapa perempuan ini?’ Mereka menjawab, ‘Dahulu, ia telah menahan kucing ini hingga mati kelaparan, dia tidak memberinya makan dan tidak melepaskannya untuk mencari makan sendiri-perawi berkata, ‘Aku kira, beliau bersabda, ‘Serangga.'”] Sesungguhnya, telah diwahyukan kepadaku bahwa kalian akan mendapatkan ujian di dalam kubur seperti atau mendekati fitnah Dajjal. ‘Aku pun (kata perawi [Hisyam]) tidak mengerti mana yang dikatakan Asma’ itu.’ [Karenanya, setelah Rasulullah saw. selesai menyebutkan yang demikian itu, kaum muslimin menjadi gaduh, 2/102] Seseorang dari kamu semua akan didatangkan, lalu kepadanya ditanyakan, Apakah yang kamu ketahui mengenai orang ini?’ Adapun orang yang beriman atau orang yang mempercayai-aku pun tidak mengetahui mana di antara keduanya itu yang dikatakanAsma’-[Hisyam ragu-ragu], lalu dia (orang yang beriman) itu menjawab, ‘Dia adalah Muhammad, [dia] adalah Rasulullah, dan beliau datang kepada kami dengan membawa keterangan-keterangan yang benar serta petunjuk. Karenanya, kami terima ajaran-ajarannya, kami mempercayainya, kami mengikutinya, [dan kami membenarkannya], [dan dia adalah Muhammad (diucapkannya tiga kali)]. Malaikat-malaikat itu lalu berkata kepadanya, Tidurlah dengan tenang karena kami mengetahui bahwa engkau adalah orang yang percaya (dalam satu riwayat: engkau adalah orang yang beriman kepadanya). Adapun orang munafik-aku tidak mengetahui mana yang dikatakan Asma’ (Hisyam ragu-ragu)- maka ditanyakan kepadanya, Apa yang engkau ketahui tentang orang ini (yakni Nabi Muhammad saw.)? Dia menjawab, Aku tidak mengerti, aku mendengar orang-orang mengatakan sesuatu dan aku pun mengatakan begitu.'” [Hisyam berkata, “Fatimah-istrinya-berkata kepadaku, ‘Maka aku mengerti,’ hanya saja dia menyebutkan apa yang disalahpahami oleh Hisyam.”] [Asma’ berkata, “Sesungguhnya,[40] Rasulullah saw memerintahkan memerdekakan budak pada waktu terjadi gerhana matahari.”]

Bab Ke-39: Mengusap Kepala Seluruhnya Karena firman Allah, “Dan Usaplah Kepalamu” (al-Maa’idah: 6)

Ibnul Musayyab berkata, “Wanita adalah sama dengan laki-laki, yakni mengusap kepala juga.”[41]

Imam Malik ditanya, “Apakah membasuh sebagian kepala cukup?” Dia mengemukakan fatwa ini berdasarkan hadits Abdullah bin Zaid.[42]

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abdullah bin Zaid yang disebutkan di bawah ini)

Bab Ke-40: Membasuh Kedua Kaki Hingga Mata Kaki

119. Dari Amr [bin Yahya, l/54] dari ayahnya, ia berkata, “Aku menyaksikan [pamanku, 1/85] Amr bin Abu Hasan [yang banyak berwudhu] bertanya kepada Abdullah bin Zaid mengenai cara wudhu Nabi Muhammad saw. Abdullah lalu meminta sebuah bejana [dari kuningan, l/57] yang berisi air, kemudian melakukan wudhu untuk diperlihatkan kepada orang banyak perihal wudhu Nabi Muhammad saw. Dia lalu menuangkan sampai penuh di atas tangannya dari bejana itu, lalu membasuh tangannya tiga kali (dan dalam satu riwayat: dua kali),[43] kemudian memasukkan tangannya ke dalam bejana, lalu berkumur-kumur, memasukkan air ke hidung dan mengeluarkannya kembali [masing-masing] tiga cidukan air [dari satu tapak tangan]. Sesudah itu, ia memasukkan tangannya lagi [lalu menciduk dengannya], kemudian membasuh mukanya (tiga kali), kemudian membasuh lengan bawahnya sampai siku-sikunya dua kali, kemudian memasukkan tangannya lagi seraya mengusap kepalanya dengan memulainya dari sebelah muka ke sebelah belakang satu kali [ia mulai dengan mengusap bagian depan kepalanya hingga dibawanya ke kuduknya, kemudian dikembalikannya lagi kedua tangannya itu ke tempat ia memulai tadi]. Sesudah itu, ia membasuh kedua kakinya sampai kedua mata kaki, [kemudian berkata, ‘Inilah cara wudhu Rasulullah saw.’]”

Bab Ke-41: Menggunakan Sisa Air Wudhu Orang Lain

Jarir bin Abdullah memerintahkan keluarganya supaya berwudhu dengan sisa air yang dipergunakannya bersiwak.[44]

Abu Musa berkata, “Nabi Muhammad saw meminta semangkok air, lalu dia mencuci kedua tangannya dan membasuh wajahnya di dalamnya, dan mengeluarkan air dari mulutnya, kemudian bersabda kepada mereka berdua (dua orang sahabat yang ada di sisi beliau), ‘Minumlah dari air itu dan tuangkanlah pada wajah dan lehermu.'”[45]

Urwah berkata dari al-Miswar yang masing-masing saling membenarkan, “Apabila Nabi Muhammad saw selesai berwudhu, mereka (para sahabat) hampir saling menyerang karena memperebutkan sisa air wudhu beliau.”[46]

Bab Ke-42:

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari membawakan hadits as-Saaib bin Yazid yang akan disebutkan pada Kitab ke-28 ‘al-Manaqib’, Bab ke-22.”)

Bab Ke-43: Orang yang Berkumur dan Menghisap Air Ke Hidung dari Sekali Cidukan

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian dari hadits Abdullah bin Zaid yang sudah disebutkan pada nomor 119.”)

Bab Ke-44: Mengusap Kepala Satu Kali

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Abdullah bin Zaid yang diisyaratkan di muka.”)

Bab Ke-45: Wudhu Orang Iaki-Iaki Bersama Istrinya dan Penggunaan Air Sisa Wudhu Perempuan

Umar pernah berwudhu dengan air panas[47] dan (pernah berwudhu) dari rumah seorang perempuan Nasrani.[48]

120. Abdullah bin Umar berkata, “Orang-orang laki-laki dan orang-orang perempuan pada zaman Rasulullah saw wudhu bersama.”[49]

Bab Ke-46: Nabi Mutuunmad saw. Menuangkan Air Wudhunya Kepada Orang yang Tidak Sadarkan Diri

121. Jabir berkata, “Rasulullah saw datang menjengukku [sedang beliau tidak naik baghal dan tidak naik kuda tarik] ketika aku sedang sakit (dan dalam satu riwayat: Nabi Muhammad saw menjengukku bersama Abu Bakar di perkampungan Bani Salimah sambil berjalan kaki, lalu Nabi Muhammad saw mendapatiku, 5/178) tidak sadar, [kemudian beliau meminta air] lalu beliau berwudhu [dengan air itu] dan menuangkan dari air wudhu beliau kepada ku, lalu aku sadar, kemudian aku berkata, Wahai Rasulullah, untuk siapakah warisan itu, karena yang mewarisi aku adalah kalalah (orang yang tidak punya anak dan orang tua)? (dalam satu riwayat: sesungguhnya, aku hanya mempunyai saudara-saudara perempuan). Maka, turunlah ayat faraidh.'” (Dalam riwayat lain: beliau kemudian memercikkan air atas aku, lalu aku sadar [maka ternyata beliau adalah Nabi Muhammad saw., 7/4], lalu aku bertanya, ‘Apakah yang engkau perintahkan kepadaku untuk aku lakukan terhadap hartaku, wahai Rasulullah?” [Bagaimanakah aku harus memutuskan tentang hartaku? Beliau tidak menjawab sedikit pun] Kemudian turunlah ayat, “Yuushikumullaahu fii aulaadikum….”
Bab Ke-47: Mandi dan Wudhu dalam Tempat Celupan Kain, Mangkuk, Kayu, dan Batu

Bab Ke-48: Berwudhu dari Bejana Kecil

Bab Ke-49: Berwudhu dengan Satu Mud (Satu Gayung)

122. Anas berkata, “Nabi Muhammad saw. mandi dengan satu sha’ (empat mud) sampai lima mud dan beliau berwudhu dengan satu mud.”

Bab Ke-50: Mengusap Bagian Atas Kedua Sepatu

123. Dari Abdullah bin Umar dari Sa’ad bin Abi Waqash bahwasanya Nabi Muhammad saw. menyapu sepasang khuf (semacam sepatu) dan Abdullah bin Umar bertanya kepada Umar tentang hal itu, lalu Umar menjawab, “Ya, apabila Sa’ad menceritakan kepadamu akan sesuatu dari Nabi Muhammad saw., janganlah kamu bertanya kepada orang lain.”

124. Amr bin Umayyah adh-Dhamri berkata, “Aku melihat Nabi Muhammad saw mengusap atas serban dan sepasang khuf beliau.”

Bab Ke-51: Apabila Memasukkan Kedua Kaki dalam Keadaan Suci

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits al-Mughirah bin Syubah yang akan disebutkan pada Kitab ke-8 ‘ashShalah’, Bab ke-7.”)

Bab Ke-52: Orang yang Tidak Berwudhu Setelah Makan Daging Kambing dan Rod Tepung

Abu Bakar, Umar, dan Utsman pernah memakannya, tetapi mereka tidak berwudhu lagi. (HR. ath-Thabrani)

Bab Ke-53: Orang yang Berkumur-Kumur Setelah Makan Rod Tepung dan tidak Berwudhu Iagi

125. Suwaid bin Nu’man [salah seorang peserta bai’at di bawah pohon, 5/ 66] berkata, “Aku keluar bersama Rasulullah saw. pada tahun Khaibar [ke Khaibar, 6/213], sehingga ketika kami ada di Shahba’, yaitu tempat paling dekat dengan Khaibar, beliau shalat (dan dalam satu riwayat: lalu kami shalat) ashar, kemudian [Nabi Muhammad saw.] minta diambilkan bekal (dan dalam satu riwayat: makanan), tetapi yang diberikan hanyalah sawik (makanan dibuat dari gandum), lalu beliau menyuruh makanan itu dibasahi. Rasulullah saw. lalu makan dan kami pun makan (dan dalam riwayat lain: lalu beliau mengunyahnya dan kami pun mengunyah bersama beliau) (dan kami minum, l/60], kemudian beliau berdiri untuk shalat maghrib, [lalu meminta air] kemudian berkumur dan kami pun berkumur-kumur, kemudian beliau shalat [maghrib mengimami kami] dan tidak wudhu lagi.”

126. Maimunah berkata bahwa Nabi Muhammad saw makan belikat di sisinya kemudian shalat dan tidak wudhu.
Bab Ke-54: Apakah Harus Berwudhu Sesudah Minum Susu?

127. Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah saw minum susu lalu beliau berkumur dan bersabda, “Sesungguhnya, susu itu berminyak.”
Bab Ke-55: Berwudhu Setelah Tidur dan Orang yang Menyatakan tidak Penting untuk Mengulangi Wudhu Setelah Mengantuk Satu Kali, Dua Kali, atau dari sebab Sedikitnya Hilang Kesadaran

128. Aisyah berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, “Apabila salah seorang dari kamu mengantuk dan ia sedang shalat, hendaklah ia tidur sehingga tidur itu menghilangkan kantuknya. Ini karena sesungguhnya salah seorang di antaramu apabila shalat, padahal ia sedang mengantuk, maka ia tidak tahu barangkali ia memohon ampun lantas ia mencaci maki dirinya.”

129. Anas berkata bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, “Apabila salah seorang di antaramu mengantuk dalam shalat, hendaklah ia tidur sehingga ia mengetahui apa yang dibacanya.

Bab Ke-56: Berwudhu Tanpa Adanya Hadats

130. Anas berkata, “Nabi Muhammad saw berwudhu pada setiap shalat” Aku bertanya, “Bagaimana kamu berwudhu?” Ia berkata, “Satu kali wudhu cukup bagi salah seorang di antara kami selama tidak berhadats.

Bab Ke-57: Termasuk Dosa Besar ialah Tidak Bersuci dari Kencing

131. Ibnu Abbas berkata, “Nabi Muhammad saw. melewati salah satu dinding dari dinding-dinding Madinah atau Mekah, lalu beliau mendengar dua orang manusia yang sedang disiksa dalam kuburnya. Nabi Muhammad saw lalu bersabda,’ [Sesungguhnya, mereka benar-benar, 2/99] sedang disiksa dan keduanya tidak disiksa karena dosa besar.’ Beliau kemudian bersabda, ‘O ya, [sesungguhnya, dosanya besar, 7/86] yang seorang tidak bersuci dalam kencing dan yang lain berjalan ke sana ke mari dengan menebar fitnah (mengadu domba / memprovokasi).’ Beliau kemudian meminta diambilkan pelepah korma yang basah, lalu dibelah menjadi dua, dan beliau letakkan pada masing-masing kuburan itu satu belahan. Lalu dikatakan, ‘Wahai Rasulullah, mengapakah engkau berbuat ini?’ Beliau bersabda, ‘Mudah-mudahan keduanya diringankan selama dua belah pelepah itu belum kering.'”

Bab Ke-58: Tentang Mencuci Kencing

Nabi Muhammad saw bersabda tentang orang yang disiksa di dalam kubur, “Dia tidak bersuci dari kencing.”[50] Beliau tidak menyebut selain kencing manusia.

(Aku berkata, “Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnad-nya bagian dari hadits Anas yang tersebut di muka pada nomor 100.”)
Bab Ke-59: Nabi Muhammad saw. dan Orang-Orang Meninggalkan (tidak Mengganggu) Seorang Badui Sehingga Dia Menyelesaikan Kencingnya di Masjid

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Anas yang tersebut pada bab berikut ini.”

Bab Ke-60: Menuangkan Air di atas Kencing dalam Masjid

132. Abu Hurairah r.a. berkata, “Seorang pedesaan berdiri di masjid lalu ia kencing, maka orang-orang menangkapnya (dan dalam satu riwayat: lalu orang-orang berhamburan untuk menghukumnya, 7/102). Nabi Muhammad saw. lalu bersabda kepada mereka, ‘Biarkan dia dan alirkan air setimba besar atas air kencingnya atau segeriba air. Kamu diutus dengan membawa kemudahan dan kamu tidak diutus untuk menyulitkan.'”

Bab Ke-61: Menyiramkan Air di atas Kencing

133. Anas bin Malik berkata, “Seorang pedesaan datang lalu kencing di suatu tempat dalam lingkungan masjid, kemudian orang banyak membentak-bentaknya, kemudian Nabi Muhammad saw melarang mereka berbuat demikian itu (dan dalam satu riwayat: kemudian beliau bersabda, ‘Biarkanlah!’, 1/61) [Jangan kamu putuskan kencingnya, 7/80]. Setelah orang itu selesai dari kencingnya, Nabi Muhammad saw memerintahkan mengambil setimba air, lalu disiramkanlah air itu di atas kencingnya.”
Bab Ke-62: Kencing Anak Kecil

134. Aisyah, Ummul mukminin, berkata, “[Rasulullah saw. biasa didatangkan kepadanya anak-anak kecil, lalu beliau memanggil mereka, maka, 7/156] dibawalah kepadanya seorang anak laki-laki yang masih kecil (dalam satu riwayat: beliau meletakkan seorang anak laki-laki kecil di pangkuan beliau untuk beliau suapi, 7/76), lalu anak itu kencing di atas pakaian beliau. Beliau kemudian meminta air, lalu menyertai kencing itu dengan air tadi (yakni tempat yang terkena kencing diikuti dengan air yang dituangkan di atasnya) [dan beliau tidak mencucinya].”

135. Ummu Qais binti Mihshan berkata bahwa ia membawa anak laki-lakinya yang masih kecil dan belum memakan makanan kepada Rasulullah saw. Beliau lalu mendudukkan anak itu di pangkuannya, lalu anak itu kencing pada pakaian beliau. Beliau lalu minta dibawakan air, lalu beliau memercikinya dan tidak mencucinya.

Bab Ke-63: Kencing dengan Berdiri dan Duduk

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya bagian hadits Hudzaifah pada bab yang akan datang.”)

Bab Ke-64: Kencing di Tempat Kawannya dan Bertirai (Menutupi Diri) dengan Dinding

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnad-nya potongan hadits Hudzaifah pada bab berikutnya”)

Bab Ke-65: Kencing di Tempat Pembuangan Sampah Suatu Kaum

136. Abu Wail berkata, “Abu Musa al-Asy’ari itu sangat ketat mengenai persoalan kencing. Ia mengatakan, ‘Sesungguhnya, kaum Bani Israel itu apabila kencingnya mengenai pakaian seseorang dari kalangan mereka, pakaian yang terkena itu dipotong.’ Hudzaifah berkata, ‘Semoga dia bisa berdiam. [Aku pernah berjalan bersama Nabi Muhammad saw.], lalu beliau mendatangi tempat sampah suatu kaum di belakang dinding, lalu beliau berdiri sebagaimana seorang dari kamu berdiri, kemudian beliau kencing sambil berdiri, lalu aku menjauhi beliau, kemudian beliau berisyarat memanggilku, lalu aku datang kepada beliau dan berdiri di belakangnya hingga beliau selesai, [kemudian beliau meminta dibawakan air, lalu aku bawakan air kepada beliau, kemudian beliau berwudhu].'”

Bab Ke-66: Mencuci Darah

137. Aisyah r.a. berkata, “Fatimah binti Abu Hubaisy datang kepada Nabi Muhammad saw seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, aku seorang wanita yang berhaid, namun aku tidak suci-suci, apakah aku boleh meninggalkan shalat?’ Rasulullah saw bersabda, “Tidak, hal itu hanyalah urat (gangguan pada urat) dan bukan haid. Apabila haidmu datang, tinggalkanlah shalat [selama hari-hari engkau berhaid itu, 1/84], dan apabila haid itu telah hilang (dan dalam satu riwayat: habis waktunya), cucilah darah darimu kemudian shalatlah. Selanjutnya, berwudhulah engkau untuk tiap-tiap shalat hingga datang waktunya itu.'”
Bab Ke-67: Membasuhi Mani dan Menggaruknya serta Membasuh Apa yang Terkena Sesuatu dari Perempuan

138. Sulaiman bin Yasar berkata, “Aku bertanya kepada Aisyah tentang pakaian yang terkena mani. Dia menjawab, ‘Aku mencucinya dari pakaian Rasulullah saw dan beliau pun keluar untuk shalat, pada hal noda-noda mani itu masih terlihat.'”

Bab Ke-68: Membasuhi Bekas Janabah atau lainnya, tetapi tidak Dapat Hilang Bekasnya

(Aku berkata, “Dalam bab ini, Imam Bukhari meriwayatkan dengan isnadnya hadits Aisyah di atas.”)

sumber : http://fiqihdasar.blogspot.com/2010/07/wudlu.html

Hadis Tentang Wudhu

A.    Pendahuluan
Islam merupakan agama yang sempurna. Islam datang di tengah kaum yang dianggap paling bobrok akhlaknya di masa itu. Segala bentuk kejahatan dan kemusyrikan ada pada mereka. Rasulullah di utus untuk bangsa tersebut agar dapat merubah pola kehidupan yang jauh menyimpang tersebut dengan membawa risalah-risalah yang penuh makna. Salah satu ajaran yang dibawa adalah shalat yang digunakan sebagai media untuk berkomunikasi dengan Allah. Namun shalat tidak akan diterima jika orang yang mengerjakannnya masih dalam keadaan “kotor”. Oleh karena itulah wudhu menjadi sebuah rangkaian wajib sebelum melaksanakan shalat.
Banyak hadis yang menceritakan dan memberikan petunjuk tentang tata cara berwudhu dengan baik dan benar. Namu dalam kajian kali ini akan difokuskan kepada hadis yang menerangkan kewajiban berwudhu bagi orang yang hendak melaksanakan shalat sedangkan ia masi dalm keadaan berhadas.
Ṣaḥīḥ al-Bukhārī no.6440, Kitab al-Ḥiyal, Bab Fi al-Ṣalāh
حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ بْنُ نَصْرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ هَمَّامٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ
Ishaq telah menceritakan kepadaku bahwa ‘Abd al-Razzaq mengisahkan kepada kami dari Ma’mar dari Hammam bin Munabbih dari Abu Hurairah dari Nabi saw. beliau bersabda: “ Allah tidak akan menerima shalatnya seseorang diantara kamu apabila ia sedang dalam keadaan berhadats hingga ia berwudhu”.
Dalam kajian ringkas ini, penulis akan meneliti hadis tersebut dari dua aspek, internal (matn) dan eksternal (sanad). Dan berupaya mengkontestualisasikannya dengan kondisi sekarang yang telah jauh berbeda dari masa awal hadis tersebut diucapkan.
B.     Takhrij Al-Hadits
Sebagai langkah awal bagi penelitian sebuah hadis, disini kami menghadirkan hasil takhrīj hadis riwayat Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah dan terdapat enam jalur sanad dalam empat kitab hadis:
1.      Ṣaḥīḥ al-Bukhārī  no.132, Kitab al-Wuḍū, Bab La Tuqbal al-alāh bi ghairi ahūr
حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحَنْظَلِيُّ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُقْبَلُ صَلَاةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ قَالَ رَجُلٌ مِنْ حَضْرَمَوْتَ مَا الْحَدَثُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاطٌ
2.      Ṣaḥīḥ Muslim no.330, Kitab al-ahārah, Bab Wujūb al-ahārah li al-alāh
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ بْنُ هَمَّامٍ حَدَّثَنَا مَعْمَرُ بْنُ رَاشِدٍ عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ أَخِي وَهْبِ بْنِ مُنَبِّهٍ قَالَ هَذَا مَا حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ عَنْ مُحَمَّدٍ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ أَحَادِيثَ مِنْهَا وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُقْبَلُ صَلَاةُ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ
3.      Sunan al-Tirmiżī no.71, Kitab al-ahārah ‘an Rasulillāh, Bab Mā Jā’a fi al-Wuḍū’min al-Rīḥ
حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ
4.      Sunan Abī Dāwūd no.55, Kitab al-ahārah, Bab Far al-Wuḍū’
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ
5.      Musnad Amad bin anbal no. 7732, Kitab Baqī Musnad al-Mukaṡṡirīn, Bab Musnad Abī Hurairah
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُقْبَلُ صَلَاةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ قَالَ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ حَضْرَمَوْتَ مَا الْحَدَثُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ فُسَاءٌ أَوْ ضُرَاطٌ
6.      Musnad Amad bin anbal no.7875, Kitab Baqī Musnad al-Mukaṡṡirīn, Bab Baqī Musnad al-Sābiq
وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ
C.    I’tibār al-Sanad
Setelah meneliti hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah di atas, tidak ditemukan adanya syāhid dalam artian hadis ini hanya diriwayatkan oleh seorang sahabat, yaitu Abu Hurairah sendiri. Sedangkan muttabi’ dari jalur ini baru ada pada dua abaqah terakhir atau periwayat ke lima/sanad ke dua yaitu Ishaq bin Ibrahim bin Nashr dan mukharrij, Imam al-Bukhari.
Ishaq bin Ibrahim bin Nashr memiliki empat orang muttabi’ yang kesemuanya sama-sama menerima hadis dari periwayat sebelumnya, ‘Abd al-Razzaq bin Hammam bin Munabbih. Mereka adalah Ishaq bin Ibrahim al-Hanzhali, Muhammad bin Rafi’, Mahmud bin Ghailan dan Ahmad bin Hanbal. Walaupun mereka meriwayatkan hadis dari orang yang sama, namun al-taammul wa al-ada’ yang digunakan oleh masing-masing berbeda dan berimplikasi juga terhadap rekdasi hadisnya.
Sedangkan dari jalur mukharrij -dalam hal ini Imam al-Bukhari- memiliki tiga muttabi’:1) Imam Muslim menerima hadis dari Muhammad bin Rafi’, 2) al-Tirmidzi menerima hadis dari Mahmaud bin Ghailan, 3) Abu Dawud yang menerima hadis dari Ahmad bin Hanbal.
Dari penjelasan singkat di atas dapat dipahami bahwa hadis riwayat Imam al-Bukhari tersebut pada abaqah pertama (Abu Hurairah), kedua (Hammam bin Munabbih), ketiga (Ma’mar bin Rasyid) dan keempat (‘Abd al-Razzaq  bin Hammam) termasuk kategori hadis gharīb, karena hanya diriwayatkan oleh seorang periwayat pada masing-masingabaqah/tidak memiliki syāhid maupun muttabi’. Adapun  abaqah kelima yaitu Ishaq bin Ibrahim bin Nashr dan  abaqah keenam yaitu Imam al-Bukhari dikategorikan kedalam aad masyhūr karena diriwayatkan lebih dari tiga periwayat namun belum mencapai derajat mutawaātir.[1] Namun secara keseluruhan hadis tersebut digolongkan ke dalam hadis āḥad gharīb karena terdapat empat abaqah yang rawinya tunngal/menyendiri.[2]
D.    Kritik Sanad
1.      Skema Hadits
Dibawah ini merupakan skema dari hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah.
رسول الله
أبر هريرة
همّام بن منبّه
معمر بن راشد
عبد الرزّاق ين همّام بن نافع
إسحق بن إبراهيم بن نصر
البخاري
 حدّثني
 حدّثنا
 عن
 عن
 عن
 عن

Hadits ini mempunyai enam orang periwayat. Adapun urutan nama-nama periwayat, urutan periwayatan dan sanad hadits tentang berwudhu yang diriwayatkan oleh Imam al-bukhari dari Abu Hurairah di atas adalah sebagai berikut.
No
Nama Periwayat
Urutan Periwayat
Urutan Sanad
1
Abu Hurairah
Periwayat I
Sanad I
2
Hammam bin Munabbih
Periwayat II
Sanad II
3
Ma’mar bin Rasyid
Periwayat III
Sanad III
4
‘Abd al-Razzaq
Periwayat IV
Sanad IV
5
Ishaq bin Ibrahim
Periwayat V
Sanad V
6
Imam al-Bukhari
Periwayat VI/mukharrij
Sanad VI/mukharrij
2.      Kualitas Perawi Hadits
Setelah melihat jalur sanad hadis di atas, langkah yang akan dilakukan adalah meneliti satu persatu para rawi, baik dari riwayat hidup maupun penilaian ulama terhadap mereka. Hal ini dilakukan merupakan salah satu langkah untuk mengetahui kualitas sebuah hadis dari aspek sanad. Apakah semuanya termasuk periwayat yang memiliki kredibilitas yang baik/iqqah atau tidak.
a.      Abu Hurairah
Abu Hurairah merupakan salah satu sahabat yang banyak menerima hadis dari Rasulullah, bahkan ia dianggap sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkanya. Terdapat banyak perbedaan dari para ulama mengenai nama asli beliau. Menurut Khalifah bin Khayyath dan Hisyam bin al-Kalbi namanya adalah Umair bin Amir bin Abd Dzi al-Syarra bin Tharif bin ‘Attab bin Abi Sha’b bin Munabbih bin Sa’d bin Tsa’labah bin Sulaim bin Fahm bin Ghanm ibn Daus. Ada yang mengatakan bahwa namanya adalah Burair bin ‘Isyraqah, Sikkin bin Dumah, ‘Abd Allah bin Abd Syams atau Abd Syams menurut Yahya bin Ma’in dan Abu Nu’aim. Ada pula yang mengatakan namanya adalah ‘Abd Nahm dan ‘Abd Ghanm.
Sedangkan menurut al-Muharrar bin Abi Hurairah nama ayahnya adalah Umar bin Abd Ghanm. Ibn Atsir berkomentar bahwa semua perbedaan tersebut tidak terlepas dari keislaman beliau. Nabi tidak akan membiarkan sahabatnya yang memiliki nama ‘Abd Syams, ‘Abd Ghanm, ‘Abdul Uzza atau yang sejenisnya. Disebutkan bahwa nama beliau setelah masuk Islam adalah ‘‘Abd Allah, dan ada yang mengatakan namanya ialah ‘Abd al-Rahman. Ibnu Ishaq berkata bahwa ia mendapat riwayat dari teman-temannya dari Abu Hurairah ia berkata: “namaku pada masa Jahiliyah adalah ‘Abd Syams kemudian Rasulullah memanggilku ‘Abd al-Rahman.[3]
Terlepas dari semua itu, dalam berbagai referensi sekarang, beliau lebih dikenal dengan nama ‘Abd al-Rahman bin Shakhra’ dan nisbahnya al-Dausi al-Yamani. Laqab beliau adalah Abu Hurairah. Beliau wafat di Madinah pada tahun 57 Hijriyah. Namun Haitsam bin Adi menuturkan bahwa Abu Hurairah meninggal pada tahun 58 Hijriyah.[4] Sedangkan menurut al-Waqidi, Abu Hurairah wafat pada tahun 59 Hijriyah pada usia 78 tahun.[5]
Diantara guru-guru beliau selain Rasulullah adalah Khulafā’ al-Rāsyidīn, Ubay bin Ka’ab bin Qais, Asmah bin Zaid, Bashrah bin Abi Bashrah, ‘Aisyah binti Abu Bakr, Abu Ishaq, ‘Abd Allah bin Salam, al-Fadhl bin ‘Utsman bin ‘Amr. Sedangkan murid-muridnya adalah Ibrahim bin Isma’il, Ibrahim bin ‘Abd Allah, Abu al-Rabi’, Abu Bakr bin Sulaiman, Anas bin Malik, Abu Malikah, Hafsh bin ‘Ashim bin ‘Umar bin al-Khaththab, Dzakwan, Salamah bin al-Razzaq, Hammam bin Munabbih.
Adapun hal-hal yang terkait dengan penilaian ulama terhadap kredibilitas beliau tidak dibahas karena beliau termasuk dalam golongan sahabat dan mayoritas ulama sepakat bahwa semua sahabat Rasulullah yang meriwayatkan hadits dianggap ādil dan iqqah.
b.      Hammam bin Munabbih
Nama lengkapnya adalah Hammam bin Munabbih bin Kamil bin Syaikh al-Yamani, Abu ‘Uqbah al-Shan’ani al-Abnawi. Dalam kitab Tahżīb al-Kamāl karya Ibn al-Atsir disebutkan bahwa namanya ialah Hammam bin Munabbih bin Kamil bin Siyaj al-Yamani, bukan Syaikh al-Yamani.[6] Namanya dinisbatkan kepada al-Shan’ani al-Abnawi sedangkan laqabnya adalah Abu ‘Uqbah. Beliau menetap di Yaman namun ada beberapa perbedaan pendapat mengenai tahun kematiannya. Menurut Ibn Sa’d beliau meninggal pada tahun 131 H dan al-Bukhari menuturkan dari sesorang yang pernah berjumpa dengan Hammam bahwa beliau meninggal pada tahun 132 H. Perbedaan dalam tahun wafat atau tahun lahir sudah menjadi hal biasa dan lazim dalam kajian historis para rawi dan perbedaan tahunnya hanya terpaut satu, dua atau tiga tahun saja.
Guru-gurunya adalah Abu Hurairah, Mu’awiyah, Ibn ‘Abbas, Ibn ‘Umar serta Ibn Zubair,[7] Qatadah bin Da’mah bin Qatadah, Abu Ya’qub. Adapun murid-muridn beliau sebagaimana dalam kitab  Tahżīb al-Tahżīb adalah Wahb bin Munabbih (saudaranya), ‘Aqil bin Ma’qil bin Munabbih (anak saudaranya), ‘Ali bin al-Hasan bin Atsy dan Ma’mar bin Rasyid.
Sedangkan penilaian ulama terhadap beliau meliputi:
Þ    Yahya bin Ma’in                   :  ثقّة, orang yang iqqah.
Þ    Al-‘Ajali                                : ثقّة, orang yang iqqah.
Þ    Ibn Hibban                            : وثقه, orang yang dianggapiqqah.
Þ    Al-Dzahabi                           : صدوق, orang yang jujur.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa Hammam bin Munabbih memang seorang rawi yang  kredibilitasnya tidak diragukan lagi. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya penilaian buruk (al-Jar) yang dinisbatkan kepada beliau. Hanya saja al-Dzahabi menggunakan kata صدوق yang menempati tingkatan ta’dīl ketiga sama seperti kata ثقّة menurut Ibn Hajar al-‘Asqalani dan al-Suyuthi yang menempati tingkakan ketiga.[8]
c.       Ma’mar bin Rasyid
Nama lengkapnya adalah Ma’mar bin Rasyid al-Azdi al-Huddani, Abu ‘Urwah bin Abi ‘Amr al-Bashri.[9] Ia termasuk golongan tābi’īn besar. Namanya sering dinisbatkan kepada al-Azdi al-Bashri. Laqab beliau adalah Abu ‘Urwah. Tinggal di Yaman dan wafat pada tahun 154 H.
Beliau pernah berguru kepada Aban bin Abi Ayyasy, Ibrahim bin Maisarah, Ishaq bin Rasyid, Isma’il bin Umayyah, Asy’ats bin Sawwar, Bahz bin Hakim, Tsabit al-Bunani, Jabir bin Yazid al-Ju’fi, Ja’far bin Burqan, al-Hakm bin Aban al-‘Adani, al-Ja’d Abi ‘Utsman, Suhail bin Abi Shalih, ‘Ashim bin al-Ahwal, ‘Abd Allah bin Thawus, Hammam bin Munabbih, ‘Atha’ al-Hurasan, ‘Amr bin Muslim al-Janadi. Adapun diantara murid-murid beliau adalah  Aban bin Yazid al-‘Aththar, Ayyub al-Sakhtiyani (juga guru beliau), Rabbah bin Zaid al-Shan’ani, ‘Abd Allah bin al-Mubarak, Sallam bin Abi Muthi’, ‘Abdul Razzaq bin Hammam, ‘Abdul Majid bin ‘Abdul ‘Aziz, ‘Abdul Wahid bin Ziyad, Abu Sufyan al-Ma’mari, Abu Ishaq al-Syabi’i.
Adapun penilaian para ulama terhadap beliau adalah sebagai berikut:
Þ    Yahya bin Ma’in                   : ثقّة, orang yang iqqah.
Þ    ‘Amr bin al-Fallas                 : أصدق الناس, orang yang paling jujur.
Þ       Al-Nasa’i                             : ثقّة مأمون, orang yang iqqah serta dapat  dipercaya.
Þ    Ya’qub bin Syaibah             : ثقّة صالح عن الزهري, orang yang iqqah lagi ṣāli dari al-Zuhri.
Þ    Ibn Hibban                           : حافظ متقن, seorang Ḥāfi serta serta teliti
Þ    Al-‘Ajali                               :  ثقّة, orang yang iqqah.
Setelah melihat penilaian para ulama terhadap Ma’mar yang tidak ada satupun dari mereka yang men-jar atau memberikan penilaian buruk, maka dapat diambil kesimpulan bahwa Ma’mar bin Rasyid termasuk rawi yang iqqah dan hadits yang diriwayatkan oleh beliau dapat diterima.
d.      ‘Abd al-Razzaq bin Hammam bin Nafi’
Nama lengkapnya adalah ‘Abd al-Razzaq bin Hammam bin Nafi’ al-Himyari. Beliau termasuk dalam abaqah  tābi’īn kecil. Nisbah namanya ialah al-Himyari al-Shan’ani dan memiliki kunyah Abu Bakr. Dalam kitab Siyar A’lām al-Nubalā terdapat penjelasan dari Ahmad bahwa ‘Abd al-Razzaq menceritakan kepada mereka sesungguhnya ia dilahirkan pada tahun 126 H.[10] Wafat di Yaman pada tahun 211 H.
Diantara guru-guru beliau adalah Ibrahim bin Umar bin Kaisan al-Shan’ani, Ibrahim bin Muhammad bin Abi Yahya, Ibrahim bin Maimun al-Shan’ani, Isma’il bin ‘Abd Allah al-Bashri, Tsaur bin Yazid, Ja’far bin Sulaiman, Zakariya bin Ishaq, Sufyan bin ‘Uyainan, ‘Aqil bin Ma’qil bin Munabbih, ‘Ikrimah bin ‘Ammar, Mu’tamir bin Sulaiman, Ma’mar bin Rasyid, Hammam bin Nafi’ (ayahnya), Wahb bin Nafi’ (pamannya) Abu Bakr bin ‘Ayyasy dan masih banyak lagi guru-guru beliau. Adapun diantara murid-muridnya yaitu Sufyan bin ‘Uyainah (juga guru beliau), Ibrahim bin Musa, Ahmad bin al-Azhar, Ahmad bin Shalih, Ishaq bin Ibrahim bin Makhlad, Ishaq bin Ibrahim bin Nashr, al-Hasan bin ‘Ali bin Muhammad, Hajjaj bin Yusuf bin Hajjaj, ‘Abbas bin ‘Abd al-‘Azhim al-‘Anbari, Muhammad bin Aban, Zuhair bin Muhammad, Sulaiman bin Dawud al-Syadzakwani, Sulaiman bin Ma’bad al-Sinji, Yahya bin Ma’in bin ‘Aun, Yahya bin Musa.
Penilaian ulama terhadap ‘Abd al-Razzaq ialah sebagai berikut:
Þ    Abu Dawud al-Sijistani        : ثقّة, orang yang iqqah.
Þ    Al-‘Ajali                                : ثقّة يَتَشَيَّع, orang yang iqqah namun buta di
  akhir hayatnya
Þ    Abu Zur’ah                           : ثابت حديثه, haditsnya kuat
Þ    Ya’qub bin Syaibah              : ثقّة ثابت, orang yang iqqah serta kokoh
  ingatannya
Þ    Ibn Hibban                            : وثقه , orang yang dianggap iqqah.
Þ    Ibn ‘Adi                                : أرجو لا بأس به, saya berharap tidak ada cacat
  padanya
Dari penilaian beberapa ulama diatas, tidak ada yang memberikan jar kepada ‘Abd al-Razzaq. Walaupun Ibn ‘Adi berkomentar dengan menggunakan kata-kata أرجو لا بأس به itu bukanlah bentuk jar, hanya tingkatan ta’dīlnya berada pada urutan ke lima/terakhir menurut al-Harawi.[11] Walaupun demikian, hal itu tidaklah menjadi penghambat untuk menilai beliau sebagai seorang yang iqqah.
Adapun terkait dengan kebutaan beliau di akhir hayatnya, Ahmad bin Hanbal mengatakan bahwa ketika ia bertemu dengan ‘Abd al-Razzaq pengelihatannya masih bagus dan barang siapa yang mendengarkan riwayat dari beliau setelah pengelihatannya rusak maka itu dianggap lemah.[12]
e.       Ishaq bin Ibrahim
Nama lengkapnya adalah Ashaq bin Ibrahim bin Nashr al-Bukhari. Ia termasuk tingkatan tābi’ al-tābi’īn pertengahan. Namanya dinisbahkan kepada al-Sa’di dan kunyahnya ialah Abu Ibrahim. Beliau menetap di Bukhara dan menurut Abu al-Qasim bin Hasan al-Thabari, ia wafat pada hari Jum’at bulan Rabi’ al-Akhir tahun 242 H.
Guru-guru beliau adalah Husain bin Ali al-Ju’fi, Abu Usamah Hammad bin Usamah, ‘Abd al-Razzaq bin Hammam, Muhammad bin ‘Ubaid  bin Abi Umayyah dan Yahya bin Adam bin Sulaiman. Sedangkan muridnya hanya satu yaitu al-Bukhari yang merupakan cucunya.[13]
Sedangkan penilaian ulama terhadap beliau hanya ditemukan satu penilaian oleh Ibn Hibban yang menggolongkannya kedalam rawi-rawi yang iqqah (ذكره قي الثقات) dan menurutnya beliau meninggal lebih awal (كان قديم الموت).[14]
f.       Imam al-Bukhari
Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin al-Mughirah bin al-Bazdizbah. Nisbah al-Bardizbah berasala dari nama pendahulunya yang beragama Majusi, sementara nama al-Ju’fi dinisbatkan pada kebesaran kakeknya al-Mughirah yang menjadi Islam di bawah bimbingan (Mawlā) Yaman al-Ju’fi, gubernur Bukhāra saat itu. Beliau dilahirkan di Bukhara pada tanggal 13 Syawwāl 194 H dan meninggal pada tanggal 30 Ramadhan 256 H.[15]
Diantara guru-guru beliau adalah Makki bin Ibrahim al-Bulkhi, ‘Abdan bin ‘Usman al-Maruzi, Abu ‘Ashim al-Syaiban, Abu Nu’aim al-Fadhl bin Dikkin, Ahmad bin Hanbal, Abu Ma`mar, Ibrahim bin Musa al-Razi, Ahmad bin Muhammad al-Azraqi, Sa’id bin Sulaiman al-Wasiti, Sulaiman bin Harb, Sulaiman bin Abdurrahman al-Dimasyqi, Abdullāh bin Muhammad al-Ju’fi al-Musnadi,  Ali bin al-Madini, Muhammad bin Sa’īd bin al-Asbahāni, Muhammad bin Abdullah bin Numair, Yahya bin Abdullah bin Bukair, dan Yahya bin Ma’in.[16]
Diantara murid-murid beliau adalah al-Turmudzi, Ibrahim bin Ishaq al-Harbi, Ibrahim bin Musa al-Jauzi, Abu Bakar Ahmad bin Amr bin Abi ‘Ashim, Ahmad bin Muhammad bin Jalil, Abu Sa’id Bakar bin Munir bin Khulaid bin ‘Askar al-Bukhari, Abu Yahya Zakariya bin Yahya al-Bazzaz.
Penilaian Ulama terhadap beliau adalah sebagai berikut:
Þ  Amr bin Ali               : sesuatu yang tidak diketahui oleh Muhammad bin Ismail (Imam al-Bukhari) bukanlah hadits.
Þ  Abu Mus’ab              : Muhammad bin Isma’il adalah seorang ahli Fiqh dan hadits.
Þ  Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Muhammad bin Abdullah bin Numair: Kami belum pernah melihat orang seperti Muhammad bin Isma’il.
ÞIbnu Huzaimah         : Tidak ada yang lebih tahu dan hafal hadis selain dia.
ÞIbnu Sholah              : Ia bergelar Amir al-Mukminin dalam hadis.
ÞAhmad ibn Sayyar    : Ia adalah penuntut dan pengembara dalam mencari hadis.
ÞIbnu Hibban              : Ia seorang yang tsiqat.
ÞSam’any                    : Ia seorang imam mufin.
3.      Ketersambungan Sanad
Sebagaimana kita ketahui bahwa para ulama sepakat mengenai kriteria hadis ai yang pertama adalah sanadnya bersambung mulai dari perawi pertama hingga sampai perawi terakhir. Namun banyak terjadinya perbedaan pandangan mengenai batasan tersambungnya sanad tersebut. Imam Muslim memberikan batasan mengenai ketersambungan sanad ialah jika  antara perawi terdekat pernah hidup sezaman (al-Mu’āṣarah). Imam al-Bukhari menyatakan apabila antara para rawi yang paling dekat tersebut pernah bertemu walau hanya sekali, maka itu sanadnya sudah dianggap bersambung. Jadi tidak cukup hanya hidup sezaman saja.[17] Sedangkan M. Syuhudi Ismail memberikan dua syarat yang harus dipenuhi agar sebuah sanad bisa dianggap bersambung; 1) Setiap periwayat merupakan orang yang iqqah,2) antara perawi yang terdekat benar-benar terjadi hubungan periwayatan yang sah dan dapat dilihat dari bentuk penyampaian dan penerimaan hadis (al-taammul wa al-adā).[18]
Perawi pertama, yaitu Abu Hurairah (w. 57 H) sudah jelas bahwa beliau hidup semasa dengan Rasulullah dan berguru langsung kepada beliau. Bahkan dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa Rasulullahlah yang memanggil beliau dengan julukan Abu Hurairah. Namun dari bentuk al-taammul wa al-adā yang digunakan adalah عن. Para ahli hadis tidak menggunakan lafaz tersebut untuk metode simā’i dan ‘arḍ kecuali sangat sedikit. Hal ini disebabkan karena lafaz عن biasanya digunakan untuk mentadliskan riwayat yang tidak diterima dari metode simā’ī. Namun lafaz tersebut dapat dikategorikan sebagai hasil dari metode simā’ī apabila diriwayatkan dari periwayat yang tidak dikenal sebagai orang yang melakukan tadlīs  atau lafaz tersebut digunakan oleh periwayat yang benar-benar diketahui ketersambungan sanad dengan gurunya.[19]
Kemudian hubungan Abu Hurairah (w. 57 H) dengan Hammam bin Munabbih (w. 132 H) bertemu dengan adanya hubungan guru dan murid antara keduanya. Jarak tahun wafat antara keduanya tidak begitu jauh, hanya terpaut 75 tahun. Dalam hal kepribadian, penilaian ulama terhadap beliau sangat bagus. Hal ini dapat dibuktikan dengan tidak adanya penilaian buruk (al-jarḥ) yang dinisbatkan kepada beliau. Walaupun bentuk al-taammul wa al-adā yang digunakan adalah عن yang dianggap lebih lemah dari kata حدّثنا, أخبرنا namun melihat kepribadian beliau yang dinilai iqqah, maka hal tersebut tidak terlalu dipermasalahkan.
Selanjutnya ialah hubungan antara Hammam bin Munabbih (w. 132 H) dengan Ma’mar bin Rasyid (w. 154 H). Mereka berdua juga memiliki hubungan guru dan murid. Perbedaan tahun wafat mereka juga tergolong sangat dekat, hanya berjarak 22 tahun. Tentu hal ini sangat memungkinkan bagi keduanya untuk bertemu langsung. Selain itu juga, yang menjadi argumentasi bahwa mereka dimungkinkan bertemu secara langsung adalah tempat tinggal keduanya yang sama, yaitu di kota Yaman. Dengan melihat beberapa penjelasan di atas, ketersambungan sanad keduanya sangat dimungkinkan. Dilihat dari aspek kualitas, Ma’mar bin Rasyid tidak diragukan lagi. Dari keenam ulama yang memberikan komentar, tidak ada yang men-jarḥ beliau. Bahkan ‘Amr bin al-Fallas mengatakan bahwa beliau adalah orang yang paling jujur (أصدق الناس). Walaupun bentuk al-taammul wa al-adā yang digunakan juga lafaz عن mengingat keduanya adalah periwayat yang dikategorikan iqqah, maka sanad keduanya dikategorikan bersambung.
Adapun hubungan antara Ma’mar bin Rasyid (w. 154 H) dengan ‘Abd al-Razzaq bin Hammam (w. 211 H) ialah guru dan murid. Bentuk al-taammul wa al-adā yang digunakan juga sama dengan rawi-rawi sebelumnya, yaitu lafaz عن. Walaupun dianggap lebih lemah dari lafaz-lafaz lainnya, ketika di sandingkan dengan kualitas kedua periwayat yang dianggap iqqah, maka dimungkinkan adanya ketersambungan sanad secara langsung antara keduanya. Selain itu, jarak tahun wafatnya juga tidak terlalu jauh, hanya terpaut 57 tahun saja.
Kemudian ketersambungan sanad ‘Abd al-Razzaq bin Hammam (w. 211 H) dengan Ishaq bin Ibrahim bin al-Nashr (w. 242 H). Mereka berdua merupakan gurur dan murid yang jarak tahun wafatnya sangat dekat sekali, hanya terpaut 31tahun. Hal ini memungkinkan mereka untuk berinteraksi secara langsung. Selain itu, bentuk al-taammul wa al-adā yang digunakan (حدّثنا) juga mengindikasikan adanya interaksi langsung dalam meriwayatkan hadis. Ulama sepakat bahwa lafaz tersebut menunjukkan metode simā’ī. Selain itu kredibilitas keduanya juga dianggap iqqah.
Terakhir, Ishaq bin Ibrahim bin al-Nashr (w. 242 H) dengan Imam al-Bukhari (w. 256 H ). Masa hidup mereka berdua hanya terpaut 14 tahun. Kedua-duanya merupakan ulama dari Bukhara yang mempunyai hubungan guru dan murid. Bahkan Imam al-Bukhari merupakan satu-satunya murid Ishaq. Selain itu, bentuk al-taammul wa al-adā yang digunakan adalah حدّثني yang menunjukan adanya hubungan langsung ketika meriwayatkan hadis.
Setelah diteliti satu persatu hubungan antara para periwayat maka bisa dikatakan bahwa hadis tersebut sanadnya tersambung (muttail) mulai dari Imam al-Bukhari hingga ke Rasulullah saw.
4.      Kemungkinan Terhindar dari Syāż dan ‘Illah
Langkah selanjutnya dari penelitian sanad ialah memastikan tidaka adanya syāż[20] dan ‘illah[21]. M. Syuhidi Ismail menuturkan bahwa para ulama mengakui  dalam melakukan penelitian terhadap syāż dan ‘illah yang terdapat pada sebuah hadis bukanlah perkejaan yang mudah. Bahkan diantaranya berpendapat bahwa penelitian mengenai dua hal tersebut hanya dapat dilakukan oleh orang yang sudah terbiasa melakukan penelitian hadis.[22] Cara untuk mengetahui keduanya adalah dengan cara membendingkan setiap sanad atau jalur periwayatan. Namun, tingkat kesulitan dalam meneliti syāż lebih sulit dari pada meneliti ‘illah. Hal ini dapat dilihat dengan banyaknya ulama hadis yang mengarang kitab ‘ilal al-adīṡ namun belum ada yang mengarang kitab tentang syużūż al-adīṡ.[23]
Sejauh pengamatan penulis, setelah membandingkan setiap jalur periwayatan mengenai hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari Abu Hurairah tidak ditemukan adanya syāż. Hal ini dikarenakan setiap jalur sanad yang ada menjadi pendukung dan penguat jalur sanad hadis tersebut. Bahkan menurut M. Syuhudi Ismail, hadis yang hanya memiliki satu jalur sanad tidak mengenal adanya kemungkinan mengandung syāż.[24] Mungkin hal ini terjadi karena tidak adanya jalur sanad lain yang dapat dijadikan pembanding. Begitupun dengan ‘illah, penulis tidak menemukan adanya ‘illah pada hadis tersebut. Ketika beberapa redaksi matan hadis disamakan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari tersebut, maka ada beberapa hadis yang redaksinya sama persis.
5.      Kesimpulan Kritik Sanad
Setelah melakukan kajian sanad baik dari aspek kualitas para periwayat, meneliti ketersambungan sanad mereka, serta terhindarnya dari syāż dan ‘illah, maka penulis berkesimpulan bahwa hadis mengenai kewajiban berwudhu bagi orang yang berhadats dan hendak melaksanakan shalat yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah dianggap sebagai hadis yang aḥīḥ dari aspek sanad.
E.     Kritik Matan
Tahapan selanjutnya yang harus dilakukan guna meneliti sebuah hadis ialah dari aspek matn hadis itu sendiri. Dalam kitab Manhaj Naqd al-Matn karya al-Adlabi sebagaimana dikutip oleh M. Syuhudi Ismail dijelaskan bahwa kriteria dalam penelitian matan ada empat[25]:
1.      Tidak bertentangan dengan petunjuk al-Qur’an
Hadis ini berbicara mengenai kewajiban berwudhu bagi orang yang berhadats dan ingin melaksanakan shalat. Dalam kitab fat al-bārī karya Ibn Hajar al-‘Asqalani yang merupakan syar dari aḥīḥ al-Bukharī dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan tidak diterimanya shalat seseorang yang berhadats ialah tidak sah shalatnya orang yang berhadats. [26] hal ini sejalan dengan surat al-Māidah [5]: 6 :
$pkš‰r’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä #sŒÎ) óOçFôJè% ’n<Î) Ío4qn=¢Á9$# (#qè=Å¡øî$$sù öNä3ydqã_ãr öNä3tƒÏ‰÷ƒr&ur ’n<Î) È,Ïù#tyJø9$# (#qßs|¡øB$#ur öNä3Å™râäãÎ/ öNà6n=ã_ö‘r&ur ’n<Î) Èû÷üt6÷ès3ø9$# …..
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki,..
Secara eksplisit, dari ayat tersebut kita dapat mengetahui adanya perintah untuk berwudhu sebelum melaksanakan shalat. Tidak dijelaskan apakah itu dalam keadaan berhadats ataupun tidak. Seolah-olah ayat tersebut bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari sebelumnya. Dalam hadis dijelaskan bahwa yang diperintahkan berwudhu ialah orang yang berhadats ketika ingin melaksanakan shalat. Dalam kitab tafsir al-Thabari dijelaskan beberapa pendapat mengenai ayat tersebut, diantaranya:
Beliau menghadirkan pendapat ulama lain, yakni إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ yang dimaksud ialah, ketika terbangun dari tidur dan hendak melakukan shalat, maka diwajibkanlah berwudlu. Setelah itu, beliau langsung beralih ke pendapat lain, yakni pendapat yang menyatakan bahwasannya diwajibkan berwudlu ketika hendak melaksanakan shalat, baik itu dalam keadaan berhadats maupun tidak. Pendapat selanjutnya yang dimasukkan oleh Ibn Jarir ke dalam tafsirnya ketika menafsirkan ayat ini ialah: wudlu merupakan kewajiban bagi tiap shalat, baik itu dalam keadaan berhadats ataupun yang tidak, akan tetapi hukum ini kemudian dinasakh (mansūkh) untuk memudahkan/meringankan (al-Takhfīf). Yakni kemudian dikhususkan kewajiban berwudhu bagi tiap-tiap orang yang hendak melaksanakan shalat ketika dalam keadaan hadats.
Dari beberapa uraian pendapat yang dikutip oleh Ibn Jarir dalam tafsirnya, beliau kemudian memberikan pandangannya dan berusaha untuk menyimpulkan dari beberapa pandangan: bahwa wudhu’ merupakan perkara yang wajib dilakukan bagi tiap-tiap orang yang berhadats yang hendak melakukan shalat. Dan perihal Rasulullah yang melaksanakan wudhu tiap shalat, dan kemudian ketika Fatḥ Makkah beliau melaksanakan beberapa shalat dengan satu wudhu’, merupakan upaya Rasul untuk memberikan informasi terhadap umatnya bahwa apa yang beliau lakukan selama ini (wudhu tiap shalat) merupakan perkara yang baik (sunnah), namun bukan merupakan perkara yang wajib. Dan Ibn Jarir juga menambahkan mengenai kesunnahan wudhu’ setiap kali hendak melakukan shalat dengan berlandaskan hadits Rasul:[27]
حدثني أبو سعيد البغدادي، قال، حدثنا إسحاق بن منصور، عن هريم، عن عبد الرحمن بن زياد، عن أبي غطيف، عن ابن عمر، قال، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: من توضأ على طهر كتب له عشر حسنات.
Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah tidak bertentangan dengan ayat al-Qur’an.
2.      Tidak bertentangan dengan hadis yang lebih kuat
Dalam tafsirnya al-Thabari sempat mengutip beberapa hadis yang dianggap menjadi pendukung bahwa berwudhu dalam setiap kali ingin mengerjakan shalat bukanlah sebuah kewajiban dan kewajiban berwudhu hanya bagi orang yang berhadats::
حدثنا ابن حميد قال: حدثنا يحيى بن واضح قال: حدثنا عبيد الله قال: سئل عكرمة عن قول الله:”إذا قمتم إلى الصلاة فاغسلوا وجوهكم وأيديكم إلى المرافق”، فكلَّ ساعة يتوضأ؟ فقال: قال ابن عباس: لا وضوء إلا من حَدَثٍ.
Selain riwayat di atas al-Thabari juga mengutip sebuah riwayat:
حدثنا أبو كريب، قال، حدثنا وكيع، عن سفيان، عن محارب بن دثار، عن سليمان بن بريدة، عن أبيه: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يتوضأ لكل صلاة. فلما كان يوم فتح مكة، صلى الصلوات كلها بوضوء واحد[28]
Dengan demikian telah nampak bahwa hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah tidak bertentangan dengan riwayat lain.
3.      Tidak bertentangan dengan akal sehat, indera dan sejarah
Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa bahwa Rasulullah sebelum terjadinya Fatḥ Makkah selalu berwudhu sebelum melaksanakan shalat, baik ketika beliau berhadas maupun tidak. Namun setelah terjadinya Fatḥ Makkah beliau melaksanakan beberapa shalat dengan satu kali berwudhu’. Yang ingin diajarkan oleh Rasulullah adalah bahwa yang selama ini beliau lakukan (selalu berwudhu sebelum melaksanakan shalat) bukanlah sebuah kewajiban melainkan suatu hal yang bersifat sunnah.[29] Ini merupakan fakta sejarah yang pernah terjadi di masa Rasulullah terkait dengan hukum berwudhu bagi orang yang ingin melaksanakan shalat.
Melihat dari riwayat tersebut maka penulis berasumsi bahwa hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah terkait dengan wudhu tidak bertentangan dengan fakta sejarah.
4.      Susunan pernyataannya menunjukkan sabda kenabian.
Menurut jumhur ulama hadis, ada beberapa tanda-tanda matn hadis palsu yaitu:
a.       Susunan bahasanya rancu. Rasulullah yang yang sangat faṣīḥ dalam berbahasa Arab tidak mungkin menyabdakan pernyataan yang rancu seperti itu.
b.      Kandungannya bertentangan dengan akal
c.       Pernyataannya bertentangan dengan maqāṣid al-Islām
d.      Pernyataannya bertentangan dengan sunnatullah, al-Qur’an, hadis yang mutawātir dan fakta sejarah.[30]
Adapun variasi matan yang dimiliki oleh hadis Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah yang menjadi pokok penelitian adalah sebagai berikut:
No
Sumber
Redaksi Matan
01
·    Ṣaḥīḥ al-Bukhārī no.6440
·    Sunan Abī Dāwūd no.55
·    Musnad Amad bin anbal no.7875
لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ
02
·    Ṣaḥīḥ al-Bukhārī  no.132
·    Musnad Amad bin anbal no. 7732
لَا تُقْبَلُ صَلَاةُ مَنْ أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ
03
·    Ṣaḥīḥ Muslim no.330
لَا تُقْبَلُ صَلَاةُ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ
04
·    Sunan al-Tirmiżī no.71
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ صَلَاةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ
Dari tabel di atas, dapat dilihat bahwa hadis ini diriwayatkan secara makna. Dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara redaksi hadis tersebut. Terkadang digunakan bentuk majhūl dan di beberapa hadis bentuk yang digunakan adalah ma’lūm. Perbedaan tersebut tidaklah merubah makna dan esensi hadis tersebut. maka variasi redaksi pada hadis ini masih bisa diterima.
Terkait dengan posisi beliau ketika menyampaikan hadis, menurut M. Syuhudi Ismail apabila yang disampaikan itu merupakan hadis yang terkait dengan ibadah, hal-hal ghaib (surga, neraka, dosa, siksa dll) maka pada waktu itu Rasulullah berada dalam posisi seorang nabi. Melihat hadis di atas yang berkenaan dengan ibadah, maka penulis simpilkan bahwa hadis tersebut menunjukkan ciri-ciri kenabian Muhammad saw.
F.     Simpulan
Setelah melalui tahapan-tahapan di atas, baik yang berkenaan dengan kritik sanad maupun matan mengenai hadis tentang wudhu yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dai sahabat Abu hurairah, maka penulis mengambil beberapa kesimpulan:
1.      Berdasarkan hasil takhrīj, hadis ini memiliki tujuh jalur sanad yang terdapat dalam lima kitab induk.
2.      Berdasarkan I’tibār al-Sanad, hadis riwayat Imam al-Bukhari dari Abu Hurairah tersebut termasuk kategori Aad Gharīb karena tidak ditemukannya syāhid dan muttabi’ hinnga abaqah ke lima.
3.      Dari aspek kualitas sanad, hadis ini tergolong ṣḥaḥīḥ karena semua periwayat dari jalur tersebut iqqah.
4.      Dari aspek matan, hadis ini tergolong ṣḥaḥīḥ dan maqbūl sehingga dapat diterima dan dijadikan ḥujjah.
5.      Secara kontekstual, hadis ini masih sangat relevan dan sesuai dengan kondisi saat ini. Hal ini dikarenakan hadis tersebut termasuk hadis-hadis (hukum) aḥkām, dan masih diamalkan oleh umat muslim walaupun sudah dicoveri dengan sampul mazhab.
6.      Hadis tersebut mengajarkan kita bahwa ketika akan menghadap Allah, kita harus sudah suci dan bersih lahir batin. Tidak hanya aspek lahiriahnya saja (pakaian, tempat) tetapi suci dari hadats yang bisa dikategorikan sebagai anggota batin.

“Tujuh golongan yg akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya di hari tdk ada naungan kecuali naungan-Nya

“Tujuh golongan yg akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya di hari tdk ada naungan kecuali naungan-Nya.

1. Pemimpin yg adil,

2. Pemuda yg sentiasa beribadat kepada Allah semasa hidupnya,

3. Orang yg hatinya sentiasa berpaut pada masjid-masjid

4. Dua orang yg saling mengasihi karena Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah,

5. Seorang lelaki yg diundang oleh seorang perempuan yang mempunyai kedudukan dan rupa paras yg cantik utk melakukan kejahatan tetapi dia berkata, ‘Aku takut kepada Allah!’,

6. Seorang yg memberi sedekah tetapi dia merahsiakannya seolah-olah tangan kanan tidak tahu apa yg diberikan oleh tangan kirinya dan

7. Seseorang yg mengingati Allah di waktu sunyi sehingga mengalirkan air mata dr kedua matanya” (HR. Bukhari & Muslim)

KEDAHSYATAN DAN KENGERIAN HARI KIAMAT

KEDAHSYATAN DAN KENGERIAN HARI KIAMAT

Abul-Laits dengan sanadnya meriwayatkan dari Aisyah r.a. berkata: “Saya tanya kepada Rasullullah s.a.w., Apakah yang cinta itu ingat pada kekasihnya pada hari kiamat?” Jawab Rasullullah s.a.w.: “Adapun ditiga tempat (masa) maka tidak ingat iaitu ketika ditimbang amal sehingga diketahui apakah ringan atau berat, ketika menerima lembaran catatan amal (suhuf) sehingga ia terima imma dari kanan atau dari kiri dan ketika keluar dari neraka ular naga lalu mengepung mereka dan berkata “Aku diserahi tiga macam: Orang mempersekutukan Allah s.w.t. dengan lain Tuhan, dan orang yang kejam, penentang, zalim dan orang yang tidak percaya pada hari kiamat (hisab), maka diringkus semua orang-orang yang tersebut itu lalu dilemparkan semuanya dalam neraka jahannam, dan diatas neraka jahannam itu ada jambatan yang lebih halus dari rambut dan lebih tajam dari pedang, sedang dikanan kirinya bantolan dan duri-duri, sedang orang-orang yang berjalan diatasnya ada yang bagaikan kilat, dan bagaikan angin kencang, maka ada yang selamat, dan ada yang luka terkena bantolan duri, dan ada yang terjerumus muka kedalam neraka.”

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a. berkata: Rasullullah s.a.w. bersabda: “Diantara dua kali tiupan sangkakala itu jarak empat puluh tahun (Tiupan untuk mematikan dan membangkitkan semula). Kemudian Allah s.w.t. menurunkan hujan air bagaikan mani orang lelaki, maka timbullah orang-orang mati bagaikan timbulnya tanaman (sayur-sayuran).”

Abul-Laits juga telah meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a. berkata: Rasullullah s.a.w. bersabda: “Ketika Allah s.w.t. telah selesai menjadikan langit dan bumi, Allah s.w.t. menjadikan sangkakala dan diserahkan kepada Malaikat Israfil, maka ia meletakkannya dimulutnya melihat ke Arsy menantikan bilakah ia diperintahkan.” Saya bertanya: “Ya Rasullullah, apakah shur (sangkakala) itu?” Jawab Rasullullah s.a.w.: “Bagaikan tanduk dari cahaya.” Saya bertanya lagi: “Bagaimana besarnya?” Rasullullah s.a.w. menjawab: “Sangat besar bulatannya, demi Allah yang mengutuskanku sebagai Nabi s.a.w. besar bulatannya itu seluas langit dengan bumi, dan akan ditiup hingga tiga kali iaitu pertama Nafkhatul faza’ (untuk menakutkan), Nafkhatus sa’aq (untuk mematikan) dan Nafkhatul ba’ats (untuk menghidupkan kembali atau membangkitkan).”

Dalam riwayat Ka’ab hanya dua kali tiupan, iaitu mematikan dan membangkitkan. Firman Allah s.w.t. yang berbunyi: “Wa yauma yunfakhu fafazi’a man fissamawati waman fil ardhi illa man sya Allah (Yang bermaksud) Dan pada hari ditiup sangkakala maka terkejut takut semua yang dilangit dan yang dibumi, kecuali yang dikehendaki oleh Allah. (Surah Annamel : 87)

Dan pada saat itu tergoncangnya bumi, dan manusia bagaikan orang mabuk sehingga ibu yang mengandung gugur kandungannya dan yang meneteki lupa terhadap bayinya, dan anak-anak segera beruban dan syaitan-syaitan laknatullah berlarian. Maka keadaan itu berlaku beberapa lama kemudian Allah s.w.t. menyuruh Israfil meniup sangkakala kedua.

Firman Allah s.w.t. yang berbunyi: “Wa nufikhafishshuri fasha’iqa man fissamawati waman fil ardhi illa man sya Allah. Tsumma nufikha fihi ukhra fa idza hum qiyamun yandhurun. (Yang bermaksud) Dan ketika ditiup sangkakala maka matilah semua yang dilangit dan bumi kecuali yang dikehendaki Allah, kemudian ditiup lagi, tiba-tiba mereka bangun dan melihat. (Surah Azzumar : 68)

Mereka yang dikecualikan itu ialah roh orang-orang yang mati syahid, Jibrail, Mika’il, Israfil dan Hamalatul arsyi serta Malaikatmaut, sehingga ketika ditanya oleh Allah s.w.t: “Siapakah yang masih tinggal dari makhlukKu?” Padahal Allah s.w.t. lebih mengetahui. Jawab Malaikatmaut: “Ya Tuhan, Engkau yang hidup, yang tidak mati, tinggal malaikat Jibril, Mika’il, Israfil, Hamalatul arsyi dan aku.” Maka Allah s.w.t. menyuruh Malaikatmaut mencabut roh mereka.

Riwayat Muhammad bin Ka’ab dari seorang dari Abu Hurairah r.a. berkata: “Kemudian Allah s.w.t. berfirman: “Harus mati Jibril, Mika’il, Israfil dan juga Hamalatul arsyi.” Kemudian Allah s.w.t. bertanya: “Hai Malaikulmaut, siapakah yang masih tinggal dari makhlukKu?” Jawab Malaikulmaut: “Engkau Dzat yang hidup yang tidak akan mati, tinggal hambamu yang lemah, Malikulmaut.” Firman Allah s.w.t.: ” Hai Malaikulmaut, tidakkah kau mendengar firmanKu: “kullu nafsin dza’iqatul maut. (Yang bererti) Tiap makhlukKu, Aku jadikan engkau untuk tugasmu itu, dan kini matilah engkau.” Maka matilah Malaikulmaut diperintah mencabut nyawanya sendiri, maka ia sendiri, tiba-tiba ia menjerit, yang andaikata waktu itu makhluk lain masih hidup nescaya mereka semua akan mati kerana jeritan Malaikulmaut itu, lalu ia berkata: “Andaikan saya mengetahui bahawa pencabutan roh itu seberat ini nescaya aku akan lebih lunak ketika mencabut roh-roh orang mukmin.” Kemudian matilah Malaikulmaut dan tiada tinggal satupun dari makhluk Allah s.w.t. Kemudian Allah s.w.t. berfirman kepada dunia yang rendah ini: “Dimanakah raja-raja dan putera-putera raja, dimanakah raksasa-raksasa dan putera-putera raksasa yang makan rezekiKu tetapi menyembah lainKu.” Kemudian Allah s.w.t. berfirman: “Limanil mulkil yaum? Lillahilwahidil qahhar.” (Yang bermaksud) Siapakah yang mempunyai hak milik pada hari ini?. Pertanyaan ini tidak ada yang menjawab, maka Allah s.w.t. sendiri menjawab: “hanya bagi Allah yang tunggal dan memaksa segala sesuatu.”

Kemudian Allah s.w.t. menyuruh langit menurunkan hujan bagaikan air mani lelaki selama empat puluh hari, sehingga air telah mengenang diatas segala sesuatu setinggi hasta, maka Allah s.w.t. menumbuhkan makhluk bagaikan tumbuhnya sayur-sayuran sehingga sempurna kerangka badannya sebagaimana semula dahulu, kemudian Allah s.w.t. menyuruh (berseru): “Hiduplah hai Israfil dan Hamalatularsyi.” Maka hiduplah mereka. Lalu Allah s.w.t. menyuruh Israfil meletakkan sangkakala dimulutnya, lalu Allah s.w.t. menyuruh Israfil meniupnya untuk membangkitkan, maka keluarlah roh-roh bagaikan lebah telah memenuhi angkasa antara langit dan bumi, lalu masuklah roh itu kedalam jasad didalam hidung, maka bumi mengeluarkan mereka.

Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Saya pertama orang yang keluar dari bumi.” Dalam lain hadis: “Sesungguhnya Allah s.w.t. jika telah jika telah menghidupkan Malaikat Jibrail, Mika’il, Israfil, maka mereka pergi kekubur Nabi Muhammad s.a.w. membawa buraq dan perhiasan-perhiasan syurga, maka terbuka bumi untuk Baginda Rasulullah s.a.w. dan ketika melihat Jibril segera bertanya: “Ya Jibril, bagaimana ummatku? (Apakah yang diperbuat oleh Allah s.w.t. terhadap ummatku?) Jawab Jibril: “Terimalah khabar gembira, kerana kau pertama yang kuluar dari bumi.” Kemudian Allah s.w.t. menyuruh Israfil meniup sangkakala, tiba-tiba serentak mereka bangkit melihat keadaan.

Abu Hurairah r.a meriwayatkan: “Maka keluarlah mereka dari kubur mereka dalam keadaan telanjang bulat, menuju kepada Tuhan mereka , kemudian berhenti disuatu tempat selama 70 tahun, Allah s.w.t. membiarkan mereka, tidak melihat atau memutuskan keadaan mereka, mereka menangis sehingga habis air mat, dan mengeluarkan darah dan peluh sehingga banjir sampai kemulut, kemusian mereka dipanggil ke Mahsyar, mereka keburu-buruan menuju panggilan itu, maka apabila telah berkumpul semua makhluk, jin, manusia dan lain-lainnya, tiba-tiba terdengar suara yang keras dari langit, maka terbuka langit dunia dan turun daripadanya sepenuh penduduk bumi dari para Malaikat, dan mereka langsung berbaris, lalu bertanya: “Apakah ada diantara kamu yang membawa perintah Tuhan untuk hidab?” Dijawab: “Tidak ada.” Kemudian turun ahli langit kedua dan berbaris pula, kemudian turun prnduduk langit ketiga, dan seterusnya sampai langit ketujuh, masing-masing berlipat dari yang sebelumnya dan semua Malaikat itu melindungi penduduk bumi.”

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a. berkata: “Sesungguhnya Allah s.w.t. akan menyuruh langit dunia maka terbelah dan mengeluarkan semua Malaikat yang ada didalamnya, maka turun semuanya dan mengepung bumi dengan apa yang ada dibumi, kemudian langit kedua dengan isinya, kemudian yang ketiga dengan isinya, kemudian keempat dengan isinya, kemudian kelima dengan isinya, kemudian keenam dengan isinya sehinggalah merupakan tujuh barisan Malaikat, setengahnya dikepung oleh setangahnya, sehingga penduduk jika pergi kemana sahaja mereka mendapati tujuh berisan Malaikat itu seperti mana firman Allah s.w.t.: “Ya ma’syaral jinni wal insi inis tatha’ tum an tanfudzu min aqtharissamawati wal ardhi fan fudzu la tanfudzuna illa bisulthan.” (Yang bermaksud) “Hai para jin dan manusia jika kamu dapat menembus langit dan bumi, maka silakan menembusnya. Dan kamu tidak akan menembusnya kecuali dengan kekuatan.”

Firman Allah s.w.t. lagi: “Wayauma tasyaqqaqussama’u bil ghomami wanuzzilal malaikatu tanzila.” (Yang bermaksud) “Dan pada hari terbelahnya langit dengan awan, dan diturunkan para Malaikat dengan seketika.”

Abu Hurairah r.a. berkata: “Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: Allah s.w.t. telah berfirman: “Hai para jin dan manusia, aku nasihatkan kepadamu, sesungguhnya yang tercatat dalam lebaran hanya amalmu sendiri, kerana itu siapa yang mendapatkan didalamnya kebaikan, hendaklah mengusapkan : Alhamdulillah dan siapa yang mendapat lain dari itu, maka jangan menyalahkan yang lain kecuali dirinya sendiri. Kemudian Allah menyuruh jahannam, maka keluar daripadanya binatang yang panjang mengkilat gelap lalu berkata-kata. Maka Allah berfirman: “Alam a’had ilaikum ya bani Adama alla ta’budusy syaithana innahu lakum aduwwun mubin. Wa ani’buduni hadza shiraatum mustaqim. Walaqad a adholla minkum jibilla katsiera afalam takuni ta’qilun. Hadzihi jahannamullati kuntum tu’aduun. Ish lauhal yauma bima kuntum takfurun. (Yang bermaksud) Tidak Aku telah berpesan kepadamu: Jangan menyembah syaitan, sesungguhnya ia musuhmu yang nyata-nyata. Dan sembahlah Aku. Inilah jalan yang lurus. Dan ia telah menyesatkan ummat-ummat yang banyak dari kamu. Apakah kamu tidak berakal (berfikir) dan menyedarinya. Inilah neraka jahannam yang telah diancamkan (Peringatan) kepadamu. Masuklah kamu kini, oleh sebab kekafiranmu.”

Maka pada saat itu bertekuk lutut tiap-tiap ummat, sebagaimana firman Allah s.w.t.: “Wa tara kulla ummatin jatsiyatan kullu ummatin tud’a ila kitabiha.” (Yang bermaksud) Disini kamu melihat tiap-tiap ummat (orang) bertekuk lutut, tiap ummat dipanggil untuk menerima suratan amalnya.” Lalu Allah s.w.t. memutuskan pada semua makhlukNya. Dan antara binatang-binatang buas atau ternak, sehingga kambing-kambing yang tidak bertanduk diberi hak membalas kambing yang bertanduk, kemudian diperintahkan menjadi tanah semua binatang-binatang itu. Dan disaat itu orang kafir berkata: “Aduh sekiranya aku menjadi tanah.” Kemudian Allah s.w.t. memutuskan antara semua hambaNya.

Nafi’ dari Ibn Umar r.a. berkata: Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Manusia akan dibangkitkan kembali kepada Tuhan pada hari kiamat, sebagaimana keadaan mereka ketika dilahirkan dari perut ibunya telanjang bulat. Siti Aisyah berkata: “Laki perempuan berkumpul ya Rasullullah? Jawab Nabi Muhammad s.a.w.: “Ya.” Siti Aisyah berkata: “Alangkah malunya, kemaluanku dapat dilihat setengah pada setengahnya.” Nabi Muhammad s.a.w. sambil memukul bahu Aisyah bersabda: “Hai puteri dari putera Abu Quhafah, kesibukan orang-orang pada saat itu tidak memungkinkan akan melihat itu, orang-orang pada mengarahkan pandangan kelangit, berdiri selama empat puluh tahun tidak makan, tidak minum, ada yang berpeluh sampai tumit, sampai betis, sampai perut dan ada sampai mulut, kerana lamanya berhenti, kemudian berdiri para Malaikat mengelilingi arsy, lalu Allah s.w.t. menyuruh menyeruan nama fulan bin fulan, maka semua yang hadir melihat-lihat orangnya, lalu keluar prang itu untuk menghadapi Tuhan Rabbul A’alamin. Dan bila telah melihat Rabbul A’alamin dipanggil orang-orang yang pernah dianiaya oleh orang itu untuk diberikan dari hasanat kebaikannya kepada orang-orang yang teraniaya itu, kerana pada saat itu tidak ada pembayaran dengan mas, perak (dinar, dirham), maka orang-orang selalu menagih sehingga habis hasanatnya, maka diambilkan dari dosa-dosa orang-orang yang dianiaya itu untuk dipikulkan kepadanya, kemudian jika selesai semua maka diperintahkan: “Kembali ketempatmu dalam neraka hawiyah (jahannam) kerana pada hari ini tidak ada dhulum.” (penganiyaan), sesungguhnya Allah amat segera perhitunganNya. Maka pada saat itu tidak ada seorang Malaikat yang muqarrab atau Nabi Rasul melainkan merasa bahawa tidak akan selamat, kecuali jika mendapat perlindungan Allah s.w.t.”

Mu’adz bin Jabal r.a. berkata: Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Laa tazulu qadamaa abdin hatta yus’ala an arba. An umrihi fima afnaahu wa’an jasadihi fima ablaahu wa’an ilmihi ma amila bihi wa’an maalihi min aina iktasabahu wafima anfaqahu. (Yang bermaksud) Tidak dapat bergerak kaki seorang hamba sehingga ditanya tentang empat: Umurnya digunakan apa sampai habis. Dan badannya dalam apa ia rosakkan. Dan ilmunya apa ia pergunakan (apakah diamalkan). Dan hertanya dari mana ia dapat dan kemana ia keluarkan.

Ikrimah berkata: Seorang ayah akan memegang anaknya pada hari kiamat dan berkata: “Saya ayahmu ketika didunia.” Maka anak itu memuji kebaikannya lalu ayah itu berkata: “Hai anak, kini saya berhajat kepada hasanatmu yang sekecil dzarrah, kalau-kalau saya dapat selamat dengan itu dari apa yang kau lihat ini.” Jawab anaknya: “Saya juga takut dari apa yang kau takutkan itu kerana itu tidak dapat memberikan kepadamu sedikitpun.” Lalu pergi kepada isterinya dan berkata kepadanya: “saya dahulu suamimu didunia.” Maka dipuji oleh isterinya, lalu berkata: “Saya ini minta kepadamu satu hasanat, kalau-kalau saya boleh selamat dari apa yang kau lihat ini.” Jawab isterinya: “saya juga takut dari itu terhadap diriku seperti engkau.” Sepertimana firman Allah s.w.t. yang berbunyi: “Wain tad’u muts qalatun ila himliha laa yuhmal minhu syai’un walaukaana dza qurba.” (Yang bermaksud) “Dan orang keberatan pikulannya itu jika memanggil lain orang untuk memikulkan sebahagian tidak akan dipikulkan sedikitpun, meskipun yang dipanggil itu kerabat yang dekat.”

Ibn Mas’ud berkata: Nabi Muhammad s.a.w. bersabda yang berbunyi: “Innal kafir layul jamu biaroqihi walau ilaannar. (Yang bermaksud) Orang kafir akan tenggelam dalam peluhnya kerana lamanya hari itu sehingga ia berdoa: “Ya Tuhan, kasihanilah aku, meskipun masuk kedalam neraka.”

Abu Ja’far meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu Abbas r.a. berkata: Nabi Muhammad s.a.w. bersabda: “Tiada seorang nabi melainkan ia mempunyai doa yang mustajab, dan semuanya sudah menggunakan doa itu didunia, sedang saya masih menyimpan doa itu, untuk saya gunakan sebagau syafa’at bagi ummatku pada hari kiamat. Ingatlah bahawa sayalah yang terkemuka dari semua anak Adam dan itu bukan bangga, dan saya juga yang pertama bangkit dari bumi, juga bukan kerana bangga, dan panji Alhamd ditanganku pada hari kiamat yang dibawahnya ada Adam dan anak cucunya, juga tidak bangga dengan itu. Pada kiamat kesukaran dan kerisauan manusia akan bertambah dahsyat sehingga mereka datang pada Nabi Adam a.s. dan berkta: “Hai Abulbasyar (Ayah dari semua manusia), berikan syafa’atmu (bantuanmu) bagi kami dengan minta Tuhan, supaya segera menyelesaikan kami ini. Jawab Adam: “Itu bukan bagian saya, saya telah diusir keluar dari syurga kerana dosaku, dan kini aku tidak memikirkan sesuatu kecuali diriku sendiri, lebih baik kamu pergi kepada Nuh a.s. kerana ia sebagai Nabi yang pertama. Maka mereka pergi kepada Nuh dan berkata: “Tolonglah kamu mintakan kepada Tuhan supaya lekas membebaskan kami.” Jawab Nabi Nuh a.s.: “Bukan bagianku, saya telah mendoakan penduduk bumi sehingga tenggelam semuanya, dan kini tidak ada yang aku fikirkan kecuali diriku sendiri, tetapi kamu lebih baik pergi kepada Nabi Ibrahim a.s. Khalilullah. Maka pergilah mereka kepada Nabi Ibrahim a.s. dan berkata: “Tolonglah kami disisi Tuhan supaya segera memutuskan urusan kami.” Jawab Nabi Ibrahim a.s: “Itu bukan urusanku sebab saya telah dusta tiga kali. Rasulullah s.a.w. bersabda: ” keriga-tiganya itu kerana mempertahankan agama Allah iaitu ketika ia diajak keupacara kaumnya, lalu ia menyatakan: “Inni saqiem (Sesungguhnya saya sakit), kali kedua ketika berkata: “Bal fa’alahu kabiruhum hadza.” (Yang bermaksud) “Bahwa yang merosakkan berhala-berhala ini hanya ini lah yang terbesar dan kali ketiga ketika isterinya akan diganggu oleh Raja yang zalim, lalu ia berkata: “ini saudaraku.” kerana itu kini tidak ada sesuatu yang merisaukan hatiku kecuali bagaimana nasibku, tetapi kamu pergi kepada Musa a.s sebagai Kalimullah yang langsung mendengar firman-firman Allah. Maka mereka langsung pergi kepada Nabi Musa a.s. dan berkata: “Tolonglah kami, gunakan syufa’atmu untuk mengadap Tuhan supaya menyelesaikan urusan kami ini.” Jawab Nabi Musa a.s.: “Itu bukan urusanku, saya pernah membunuh orang tanpa hak, dan kini aku tidak memikirkan kecuali nasib diriku, tetapi kamu pergi kepada Nabi Isa a.s. Ruhullah dan Kalimatullah.” Maka segera mereka pergi kepada Nabi Isa a.s dan berkata: “Berilah jasa syafa’atmu. mintalah kepada Tuhan supaya segera meringankan penderitaan kami ini.” Jawabnya: “Saya telah diangkat bersama ibuku oleh orang-orang sebagai Tuhan, dan kini tidak ada sesuatu yang merisaukan aku kecuali urusanku sendiri, tetapi bagaimana pendapatmu kalau ada barang terbungkus dan ditutup, apakah dapat mencapai barang itu jika tidak dibuka penutupnya?” jawab mereka: “Tidak.’ Maka ia berkata: “Sesungguhnya Nabi Muhammad s.a.w. itu penutup dari semua nabi-nabi, dan Allah telah mengampunkan baginya apa yang lalu dan yang kemudian, lebih baik kamu pergi kepadanya.Maka datanglah orang-orang itu kepadaku, lalu saya jawab kepada mereka: “Baiklah, sayalah yang akan membantu sehingga Allah mengizinkan bagi siapa yang dikehendakinya dan diredhainya, maka tinggal sekehendak Allah.” Kemudian bila Allah hendak menyelesaikan makhlukNya, maka ada seruan: “Dimanakah Muhammad dan ummat-ummatnya?” Maka kamilah yang terakhir didunia, dan yang pertama-tama hisabnya pada hari kiamat. Lalu aku berdiri bersama ummat-ummatku, maka ummat-ummat itu membukakan jalan untuk kami, sehingga ada suara, hampir saja ummat ini semuanya merupakan nabi-nabi, kemudian aku maju kepintu syurga dan mengetukmnya, lalu ditanya: “Siapakah itu?” Jawabku: “Nabi Muhammad Rasullullah.” Lalu dibukakan dan segera aku masuk dan bersujud kepada Tuhan serta memuja muji kepada Tuhan dengan pujian yang belum pernah diucapkan oleh seorang pun sebelumku, kemudian aku diperintah: Irfa’ ra’saka wa qul yusina’ wasai tu’tha, wasy fa tusyaffa.” (Yang bermaksud) Angkatlah kepalamu, dan katakan akan didengar, dan mintalah akan diberikan syafa’atmu akan diterima.”. Maka saya memberikan syafa’atku pada orang-orang yang didalam hatinya ada seberat semut (dzarrah) atau jagung dari iman keyakinan disamping syahadat an la ilaha illallah wa anna Muhammad Rasulullah.”

Umar bin Alkhoththob r.a. ketika masuk kemasjid bertemu dengan Ka’bul Ahbar sedang memberikan nasihat pada orang ramai, maka Umar berkata kepadanya: “Berilah kami nasihat dan cerita-cerita yang dapat menambahkan takut kepada Allah s.w.t.” Maka Ka’bul Ahbar berkata: “Sesungguhnya ada Malaikat-malaikat yang dijadikan oleh Allah s.w.t. berdiri tegak tidak pernah membongkokkan punggung mereka, dan yang lain sujud tidak pernah mengangkat kepalanya sehingga ditiup sangkakala, dan mereka bertasbih: Subhanakallahumma wabihamdika ma abadnaaka haqqa ibadatia wa haqqa ma yanbaghi laka an tu’bada. (Yang bermaksud) Maha suci Engkau ya Allah dan segala puji bagiMu, kami tidak dapat beribadat kepadaMu sepenuh ibadat yang layak kepadaMu, yang layak bagiMu untuk disembah. Demi Allah yang jiwaku ada ditangannya, neraka jahannam akan diperdekatkan pada hari kiamat lalu bergemuruh dan bila telah dekat ia bergemuruh dengan satu suara dan disaat itu tidak ada seorang nabi atau orang yang mati syahid melainkan ia bertekuk lutut jatuh, maka tiap nabi, syahid atau siddiq hanya berdoa: “Ya Allah, saya tidak minta kecuali keselamatan diriku sehingga nabi Ibrahim lupa pada Ismail dan Ishak sambil berkata: “Ya Tuhan, aku khalilullah Ibrahim, dan pada saat itu andaikan engkau, hai putera Khoththob mempunyai seperti amal tujuh puluh nabi, nescaya kau mengira bahawa dirimu tidak akan selamat.” Maka menangislah semua yang hadir.

Ketika Umar melihat keadaan itu, lalu Umar berkata: “Hai Ka’ab, berikan kepada kami khabar yang menggembirakan.” Maka berkata Ka’ab: Sesungguhnya bagi Allah s.w.t. ada 313 syari’ah, tidak seorang yang menghadap kepada Allah s.w.t. dengan salah satu syari’at itu asal disertai dengan Khalimah laa ilaha illallah melainkan pasti dimasukkan oleh Allah s.w.t kedalam syurga demi Allah, andaikan kamu tahu besarnya rahmat Allah s.w.t., nescaya kamu malas beramal. Hai saudara-saudara, bersiap-siaplah menghadapi hari kiamat itu dengan amal yang soleh, dan menjauhi ma’siyat sebab tidal lama kau akan menghadapi kiamat dan menyesal tihadap masa hidupmu yang terbuang sia-sia, ketahuilah bahawa bila kau mati bererti telah tiba hari kaimatmu, sebagaimana kata Almughirah bin Syu’bah: “Kamu menantikan hari kiamat, padahal kiamatmu ialah saat kematianmu.”

Alqomah bin Qays ketika hadir janazah lalu ia berdiri diatas kubur dan berkata: “Adapun hamba ini maka telah tiba kiamatnya, sebab seorang mati maka melihat segala persoalan hari kiamat, iaitu syurga, neraka dan Malaikat, dan ia tidak dapat berbuat suatu amal, maka ia bagaikan seorang yang berada pada hari kiamat, dan ia akan bangkit pada hari kiamat menurut keadaannya disaat matinya, maka sesungguhnya untung siapa yang penghabisan amalnya kebaikan.”

Abu Bakar Alwaasithi berkata: Keuntungan yang besar itu dalam tiga perkara iaitu hidup, mati dan kiamat. Adapun keuntungan hidup iaitu bila digunakan dalam taat kepada Allah s.w.t, dan keuntungan mati bila ia mati dalam khalimat Syahadat iaitu Laailaha illallah dan keuntungan hari kiamat bila bangkit dari kubur disambut dengan berita bahawa syurga tersedia untuknya.”

Yahya bin Mu’adz Arrazi ketika dibacakan dimajlisnya ayat yang berbunyi: “Yauma nahsyurul muttqina ilarrahmani. Wa nasuqul mujrimina ila jahannama wirda.” (Yang bermaksud) “Pada hari kiamat itu Kami akan menghantar orang yang taqwa menghadap Arahman (Allah s.w.t.) berkenderaan, sedang orang-orang yang durhaka Kami iring keneraka berjalan kaki dan merasa haus.”

Lalu ia berkata: “Tenang-tenanglah hai manusia, kamu kelak akan dihadapkan kepada Allah s.w.t. berduyun-duyun, dan menghadap pada Allah s.w.t. satu persatu, dan akan ditanya semua amalmu secara terperinci kalimat demi kalimat, sedang para wali dihantar menghdap pada Allah s.w.t. berkenderaan, dan orang-orang yang durhaka didorong keneraka jahannam berbondong-bondong, dan semua akan terjadi bila bumi telah dilenyapkan, dan tiba Tuhanmu sedang Malaikat berbaris-baris, dan dihidangkan jahannam sebagai ancaman. Saudara-saudaraku, berhati-hatilah kamu dari kengerian sehari yang perkiraannya sama dengan lima puluh ribu tahun (didunia), hari yang mengetarkan, duka cita dan menyesal., itulah hari yang besar, hari bangkitnya semua manusia untuk menghadap kepada Rabbul Alamien, hari perhitungan dan pertimbangan dan pertanyaan, hari kegoncangan, yang pasti, yang menakutkan, hari kebangkitan, hari dimana tiap manusia akan melihat apa yang telah dilakukannya. Hari dimana semua manusia dalam berbagai bentuk akan melihat amal perbuatannya, hari dimana wajah manusia putih berseri-seri dan lain wajah hitam, hari dimana seseorang tidak dapat menolong kerana lainnya, dan tidak berguna segala tipu daya, hari dimana seorang ayah tidak dapat membantu anaknya sedikit pun, hari dimana bahayanya bertebaran meluas, hari dimana tidak diterima uzur orang-orang yang zalim dan tetap mereka mendapat kutukan (laknat) serta siksa yang keji, pada hari dimana tiap manusia harus mempertahankan dirinya sendiri, pada hari dimana tiap ibu akan lalai terhadap bayi yang disusuinya, bahkan tiap ibu yang mengandung akan menggugurkan kandungannya dan orang-orang bagaikan orang mabuk tetapi tidak mabuk kerana minum arak, hanya kerana ngerinya siksaan Allah s.w.t. yang sangat keras.”

Muqatil bin Sulaiman berkata: “Makhluk akan berdiri menanti pada hari kiamat selama seratus tahun, tenggelam dalam peluhnya sendiri dan seratus tahun dalam kegelapan mereka bingung sedang seratus tahun lagi sibuk bagaikan gelombang mengajukan tuntutan kepada Tuhan. Sesungguhnya hari kiamat itu sekira lima ribu tahun, tetapi bagi seorang mukmin yang ikhlas bagaikan sesaat, kerana itu wahai orang yang sihat akal hendaklah sabar terhadap penderitaan dunia dalam melaksanakan taat kepada Allah s.w.t. untuk memudahkan bagimu segala kesukaran-kesukaran hari kiamat.”

Perjuangan

Ya Rabbi……

Begitu banyak masalah yang menghalangi , hampir langkahku surut kembali, Namun dengan semangat membara ku jalani cobaan yang ada. Dengan penuh keyakinan kugapai cita.Dengan segala keterbatasan  ku raih mimpi dengan segala duka dan air mata kubulatkan tekad.dalam kepasrahan ku memohon padamu ya robbi dan alhamdulillah selangkah keberhasilan & impian kuraih juga. Karena-Mu Ya Robbi.

 …………..

Hari ini selangkah keberhasilan telah kuraih selembar takbit telah terkua.Semangat yang kau kobarkan bertahun-tahun yang lalu yang lalu membawa aku dalam memahami arti cinta & keberhasilan kita.Dalam langkahku engkau tanamkan makna bahwa ketulusan cintamu adalah pengorbanan & perjuanganmu untuk meraih anganku..

Takdir

takdir
Oleh Ayu Andira · 17 Maret 2011

dikala takdir ditangan Allah,kita sebagai umatnya tidak bisa berbuat apa-apa.karena semua itu sudah menjadi suratan.dan kita juga tidak boleh berkata”seandainya begini ,seandainya begitu…” karena perkataan yang seperti itu,membukakan pintu untuk syeitan.lebih baik kita berkata,ini sudah menjadi takdir Tuhan.kita sebagi umatnya harus bisa menjalan…